Kamis, 21 Mei 2015 13:02 WIB

Ingin Jadi Rujukan Jantung dan Kanker, Ini Inovasi RSUP Dr Sardjito

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
Foto: Lila/detikHealth
Yogyakarta - Dengan mengantongi sejumlah akreditasi, baik di tingkat nasional maupun internasional, RSUP Dr Sardjito tengah mempersiapkan dirinya untuk menjadi salah satu rumah sakit rujukan nasional di tahun 2019.

Sejauh ini rumah sakit yang terletak di Sleman, Yogyakarta itu telah mendapatkan akreditasi KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) dengan standar paripurna pada bulan April lalu. Prestasi membanggakan kemudian disabet RSUP Dr Sardjito dengan akreditasi internasional dari JCI (Joint Commission International) sebagai academic medical centre dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

"Kami yang pertama di Indonesia diakui internasional sebagai rumah sakit pendidikan utama," kata direktur RSUP Dr Sardjito, dr Mochammad Syafak Hanung, SpA saat ditemui, Rabu (20/5/2015).

Baca juga: Kunjungan Pertama ke RS, Menkes Nila Sambangi RS Sardjito Yogyakarta

Dalam rangka mewujudkan diri sebagai pusat pelayanan jantung nasional, RSUP Dr Sardjito juga membangun jejaring dengan rumah sakit primer.

"Kalau ada laporan serangan jantung di puskesmas atau rumah sakit primer di daerah, mereka bisa langsung menghubungi kita untuk memberikan info bagaimana memberikan penanganan pertama. Jadi tidak terlambat begitu sampai di rumah sakit," paparnya.

Di samping itu, demi meningkatkan pelayanan, sejumlah inovasi telah diupayakan oleh tim yang dipimpin dr Syafak ini, di antaranya dengan membuka loket pendaftaran di lebih dari satu lantai.

"Kemarin banyak yang mengeluhkan antrean pendaftaran kita. Ini kita tanggapi dengan menyediakan loket di tiap lantai, sesuai dengan keluhan pasien, misal jantung di lantai 4," ungkapnya.

Sedangkan untuk menanggulangi antrean radioterapi kanker, RSUP Dr Sardjito telah merintis cancer centre sejak tahun 2013. "Tahun ini kita akan dapat bantuan Linex (alat radioterapi) dari pemerintah, semoga dengan itu antrean ini dapat teratasi," katanya.

Baca juga: Daftar Kendala Pemicu Naiknya Kasus Kanker di Indonesia

dr Syafak dalam waktu dekat juga ingin mewujudkan layanan 'Kemoterapi One Ticket', di mana pasien kanker tak perlu sampai mondok atau rawat inap untuk mendapatkan kemoterapi. Bahkan bila memungkinkan pasien hanya perlu menjalani kemoterapi selama satu hari kemudian diperbolehkan pulang.

"Kami terus menampung keluhan dari masyarakat, dan ada juga dengar pendapat dengan LSM demi perbaikan dari sisi pelayanan," imbuhnya.

Dengan 739 kapasitas tempat tidur dan 36 instalasi serta didukung sumber daya manusia (SDM) yang mencapai 2.958 orang, RSUP Dr Sardjito berupaya menjadi rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kesehatan secara optimal kepada masyarakat, khususnya di Yogyakarta.



(Rahma Lilahi Sativa/Nurvita Indarini)
News Feed