Sabtu, 20 Jun 2015 14:02 WIB

Young and Healthy

dr William Mapham, Percepat Penanganan Pasien Katarak di Pelosok Afrika dengan Aplikasi

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
dr Will Mapham
Cape Town - Bekerja di pedalaman Afrika memberikan tantangan tersendiri baginya. Di sisi lain, ia prihatin karena masyarakat di sana dihantui berbagai masalah kesehatan karena lokasinya yang tak terjangkau oleh akses kesehatan. Ia pun memutuskan untuk turun tangan.

80 persen kasus kebutaan sebenarnya dapat dicegah dan diobati dengan operasi katarak yang sederhana dan hanya memakan waktu tak kurang dari 20 menit. Namun di Afrika Selatan, kasus kebutaan merajalela karena kurangnya akses ke klinik atau rumah sakit.

Hal ini ditemukan dr William Mapham saat mengabdikan dirinya untuk bekerja di pelosok Swaziland dan Eastern Cape, Afrika Selatan yang terpencil selama lima tahun. Sebagai dokter mata, William prihatin masyarakat di kedua wilayah tersebut kesulitan mengakses klinik mata.

Saat itu ia bertugas di Good Shepherd Hospital, Swaziland dan Uitenhage Provincial Hospital, Eastern Cape.

"Saya bertemu banyak orang yang mengalami kebutaan selama bertahun-tahun dan membutuhkan operasi katarak untuk memperbaiki penglihatannya. Namun karena keterbatasan akses, tak banyak dari mereka yang bisa ke klinik," katanya.

Ia pun memutuskan membuat sebuah aplikasi ponsel yang berfungsi mendeteksi gangguan kesehatan mata. Kebetulan dr William pernah menghabiskan waktu beberapa bulan di New York dan Washington untuk merancang aplikasi yang bertujuan meningkatkan layanan kesehatan lewat, dan 'produknya' ini pernah dipublikasikan dalam South African Journal of HIV Medicine di tahun 2008.

Aplikasi yang ia ciptakan bersama rekannya Dylan Edwards di tahun 2011 itu pun mereka beri nama Vula App. Vula diambil dari istilah bahasa Siswati, Xhosa dan Zulu yang berarti 'terbuka'.

Fungsi utamanya ada tiga; memberikan edukasi tentang kesehatan mata, melaksanakan tes mata sederhana, dan menghubungkan pasien dengan dokter mata di klinik atau rumah sakit terdekat.

Baca juga: Donor Kornea Mata di Indonesia Masih Minim, Apa Sebabnya?

Jadi hanya dengan bermodalkan aplikasi ini, tenaga medis, terutama dokter umum sekalipun dapat melakukan tes kesehatan mata. Si dokter umum tinggal memotret mata pasien, lalu mengunggahnya ke sistem yang ada pada aplikasi. Nantinya data ini akan dibaca serta dianalisis oleh seorang spesialis mata. Dari situ si dokter spesialis dapat menentukan diagnosis, merekomendasikan pengobatan atau memberikan rujukan kepada pasien.

Untuk sementara, aplikasi ini baru terhubung dengan dokter spesialis mata di Tygerberg Hospital, tempat dinas dr William saat ini dan empat rumah sakit lain. Sejumlah klinik di daerah seperti Worcester dan Bredasdorp, Afsel juga telah terkoneksi dengan Tygerberg lewat aplikasi ini.

"Semoga dengan aplikasi ini, mereka yang menderita penyakit mata di daerah terpencil bisa mendapatkan penanganan secepat mungkin," harapnya seperti dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (20/6/2015).

Tahun lalu, aplikasi ini mendapatkan penghargaan juara 1 SAB Innovation Foundation Awards, sehingga dr William dapat menyempurnakan dan memasarkan aplikasi ini secepatnya.

Ke depannya, mekanisme yang dikembangkan dr William juga akan diperluas agar dapat dimanfaatkan oleh spesialisasi lain seperti kulit, jantung, ortopedi, kesehatan anak, dan penanganan HIV.

dr William Mapham yang diperkirakan berusia sekitar 30-an tahun itu memperoleh gelar masternya, MBChB dari University of Cape Town dan menyelesaikan internship di Kalafong Hospital, dekat Pretoria, ibukota Afrika Selatan. Saat ini ia berpraktik di Tygerberg Hospital dan menjadi salah satu staf pengajar di Faculty of Medicine and Health Sciences, Stellenbosch University.
 
Baca juga: Sightsavers, Potret Dokter Bedah Mata Keliling di Mali

(lll/up)