Kamis, 30 Jul 2015 17:01 WIB

Susah Makan, Kerongkongan Kakek Ini Ternyata 'Mampet' Akibat Kondisi Langka

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: CBS DFW
Texas - Selama ini nafsu makan Wayne Weaver tampak normal-normal saja. Tetapi pertengahan tahun lalu tiba-tiba saja bobotnya menurun drastis.

Kondisi aneh ini diakui Weaver mulai muncul pada musim gugur tahun lalu. "Saya tak bisa makan dengan porsi biasanya karena kerongkongan saya seperti menyuruh saya untuk berhenti dan mengatakan tak ada lagi yang bisa dimasukkan (ke tubuh)," kisah Weaver.

Menurut diagnosis dokter, pria berusia 79 tahun itu mengidap 'achalasia'. Ini adalah sebuah kondisi yang cukup langka, di mana otot dalam kerongkongan yang bertugas memperlancar jalan makanan dari mulut ke perut berhenti bekerja begitu saja.

Meski tak merasa bobotnya turun, tahu-tahu saja Weaver telah kehilangan berat badan sebanyak 7 kg lebih. Saat itulah Weaver memutuskan untuk menemui Dr Steven Leeds, seorang pakar bedah invasif minimalis dari Baylor University Medical Center, Dallas.

Baca juga: Terlalu Banyak Minum Susu dan Ngemil Bisa Bikin Anak Susah Makan

Dr Leeds kemudian menjelaskan achalasia biasanya menyerang satu dari 10.000 orang saja. Dan trennya lebih banyak terlihat pada dua kelompok pasien: usia 20-30an dan 60-70an. Namun diakui Dr Leeds, gejala yang paling menonjol adalah penurunan berat badan yang tidak disengaja tetapi juga drastis.

"Pasien yang datang ke kami biasanya kehilangan bobot hingga 9-13 kg, bahkan ada juga yang mencapai 31 kg sebelum akhirnya mereka mendapat diagnosis yang tepat atau diobati," lanjutnya.

Setelah melalui berbagai persiapan, Weaver akhirnya menjalani prosedur endoskopi pada akhir Januari lalu. Dalam operasi ini, Dr Leeds memanfaatkan sebuah kamera mini yang dimasukkan ke tubuh Weaver lewat mulutnya. Dengan begitu Dr Leeds dapat mengevaluasi kondisi pria asal Irving, Texas ini.

"Kami memotong salah satu otot di tenggorokan yang dapat memicunya untuk menutup dan meredakan tekanan yang didapatkan organ itu. Barulah setelah itu kerongkongannya tidak tersumbat lagi," terang Dr Leeds kepada CBS DFW dan dikutip pada Kamis (30/7/2015).

Bedah invasif minimalis sendiri memang telah diakui sebagai salah satu pengobatan utama untuk achalasia, selain operasi, penggunaan balon dilatasi dan obat-obatan oral.

Selepas operasi, Weaver hanya perlu diopname selama satu malam. Karena tidak dilaporkan adanya keluhan komplikasi pasca operasi, keesokan harinya pria ini pun langsung diperbolehkan pulang. "Berbulan-bulan kemudian, berat badan saya akhirnya balik normal lagi dan saya bisa makan seperti biasa," pungkasnya.

Baca juga: Selalu Lapar, Wanita Ini Tak Berhenti Makan Sampai Meninggal

Cleveland Clinic menerangkan, katup di ujung kerongkongan (lower esophageal sphincter atau LES) pasien achalasia terus menutup meski mereka sedang menelan makanan. Tak heran bila kemudian makanan yang diasup pasien achalasia selalu keluar lagi.

Di samping penurunan berat badan yang drastis, pasien achalasia kerap dihantui gejala lain semisal panas dalam, nyeri di dada, dan kebiasaan memuntahkan makanan yang belum sempat tercerna. Sayangnya hingga saat ini belum ada peneliti yang mengetahui apa penyebab kondisi ini.

Namun pakar memastikan achalasia bukanlah kondisi turunan atau genetik. Mereka meyakini achalasia dipicu oleh adanya virus yang belum teridentifikasi.

(lll/ajg)