Jumat, 07 Agu 2015 11:13 WIB

Pekan ASI Sedunia

Lawan Stres, Ibu-ibu Ini Pantang Menyerah Berikan ASI

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Sudah diketahui bersama yang namanya stres itu jadi 'musuh utama' ibu menyusui. Karena stres bisa memengaruhi produksi air susu ibu (ASI). Perlu tekad baja dan niat kuat untuk konsisten memberikan ASI pada si kecil.

Seperti yang disampaikan pembaca detikHealth, Devina, melalui surat elektroniknya, dia harus me-manage stres yang luar biasa akibat ditinggal suami. Menurutnya, sang suami tiba-tiba enggan menyentuh anaknya yang baru berusia seminggu.

Ketika si bayi berusia tiga pekan, sang suami pergi, meskipun beberapa hari kemudian kembali lagi. Devina merasa kalut luar biasa dengan masa depan rumah tangganya. Tapi demi melihat si buah hati bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, Devina membesarkan hatinya sendiri. Sebisa mungkin dia atasi stres agar ASI bisa keluar dengan maksimal.

Rasa kalut dengan kadar yang lebih tinggi datang saat suaminya benar-benar pergi dari kehidupannya saat si kecil masih berusia dua bulan. Berbagai rasa berkecamuk dalam dirinya. Namun Devina tetap berniat memberikan ASI pada bayinya.

"Hingga akhirnya saya kembali bekerja setelah cuti 3 bulan. ASI terus saya lanjutkan dengan memompa di kantor," paparnya seperti ditulis pada Jumat (7/8/2015).

Baca juga: Bayinya Sempat Diberi Susu Formula, Ini Cerita Amelia Kembali ke ASI

Memompa ASI di kantor juga tidak mudah. Sebab kantornya tidak tersedia ruang laktasi. Sehingga Devina harus pintar-pintar melihat ruangan yang kosong. Jika semua ruangan sedang penuh, dia pun terpaksa menggunakan toilet.

"Yang ingin saya tegaskan di sini, kalau bukan karena campur tangan Yang Kuasa saya tidak akan mungkin memiliki managemen stres super tinggi yang memungkinkan saya untuk tetap bisa memberikan ASI eksklusif yang hingga saat ini masih terus berjalan di antara berbagai perasaan gado-gado karena ditinggal pergi oleh suami," tutur Devina.

Pembaca detikHealth lainnya, Tanti, juga punya kisah sendiri dalam berjuang memberikan ASI untuk putranya, Krisna yang saat ini berusia 11 bulan. Perjuangan dimulai ketika anaknya terpaksa dititipkan di daycare karena Tanti harus kembali bekerja setelah cuti melahirkan berakhir. Saat itu usia bayinya masih 3 bulan.

"Anak saya sempat bingung puting pada usia 3 bulan, karena di daycare menggunakan dot sebagai media memberikan ASI perah," ujar Tanti.

Tak cuma itu, Tanti sempat kehabisan stok ASI perah saat anaknya berusia 4,5 bulan. Padahal setiap siang Tanti sudah ke daycare untuk menyusui langsung anaknya. Dia pun memerah ASi setiap 2,5 jam sekali, tak terkecuali bangun beberapa kali di malam hari untuk memerah ASI.

"Namun saat itu belum mampu memenuhi kebutuhannya sehingga saya memutuskan untuk menggunakan donor ASI sampai anak saya berusia 7 bulan," imbuhnya.

Tak ingin anaknya terlalu lama bergantung pada donor ASI, Tanti pun menyiasati tambahan stok ASI perah dengan memerah ASI pada saat menyusui. Karena tambahan waktu perah itu, di usia anaknya yang 11 bulan sudah ada stok ASI perah sampai sekitar 40 botol.

"Semoga saya bisa memenuhi hak anak saya sampai berusia 2 tahun," harap Tanti.

Baca juga: Berbekal 'Keras Kepala', Ibu Ini Sukses Berikan ASI Eksklusif (vit/ajg)