Selasa, 08 Sep 2015 17:15 WIB

Gampang-gampang Susah Mengonsumsi Obat Anti Nyeri

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Beberapa jenis obat antinyeri mudah sekali dibeli di apotek maupun minimarket. Meski mudah didapat, bukan berarti obat antinyeri bebas dikonsumsi sembarangan.

Masing-masing obat, menurut dr R Dwi Pantja Wibowo dari PERDATIN (Perhimpunan Dokter Anestesi dan Terapi Intensif), punya efek samping. Anggapan bahwa obat antinyeri bebas dikonsumsi kapan saja, menurutnya harus disikapi dengan bijak untuk menghindari efek samping tersebut.

"Biasakan untuk selalu baca aturan pakai yang ada di kemasan obat. Semua tercantum di situ," kata dr Pantja dalam Journalist Class yang digelar Pfizer di Midtown Bistro and Lounge, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (8/9/2015).

Baca juga: Sering Sakit Kepala, Apakah Pertanda Stroke?

Begitu pun dengan kebiasaan mengonsumsi obat antinyeri sisa milik orang lain, menurut dr Pantja juga harus dihindari. Meski sama-sama nyeri, belum tentu penyakitnya sama sehingga obat yang harus diberikan bisa saja berbeda. Kalaupun obatnya sama, aturan pakai juga belum tentu sama.

"Nyeri itu bukan penyakit, melainkan gejala. Penanda bahwa ada sesuatu di dalam tubuh," kata dr Rocksy Fransisca, SpS dari Siloam Hospital.

Menurut dr Rocksy, penggunaan obat antinyeri di Indonesia relatif lebih baik dibandingkan dengan di luar negeri. Artinya, pasien di Indonesia relatif masih lebih bijak dalam mengonsumsi antinyeri.

Kriteria penggunaan obat antinyeri yang rasional, antara lain menurut dr Rocksy adalah tidak berlebihan. Untuk nyeri akut (tidak lebih dari 2 minggu), obat-obat bebas yang dijual di pasaran seperti parasetamol
dan asam mefenamat masih boleh dikonsumsi.

Baca juga: Wow! Ibu Ini Berjoget Ria 'Hilangkan' Nyeri Kontraksi Jelang Melahirkan

(up/vit)