Studi yang dilakukan kepada 1.850 pekerja selama lima tahun ini melihat kecenderungan perilaku bullying di kantor dan peningkatan risiko untuk bunuh diri. Morten Birkeland Nielsen dari National Institute of Occupational Health dan University of Bergen mengatakan bahwa bullying di kantor merupakan penyebab bunuh diri yang sering dilupakan.
Baca juga: Terlalu Dekat dengan Anak, Orang Dewasa pun Bisa 'Dibully', Benarkah?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil penelitian mengatakan bahwa ada tiga karakteristik utama dalam perilaku bullying di kantor. Antara lain perilaku sosial yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi kantor, pembongkaran masalah pribadi dan korban yang tiadk bisa mengundurkan dan melarikan diri.
Secara umum, 4,2 hingga 4,6 persen pekerja mengaku pernah mengalami bullying. Di sisi lain, prevalensi pekerja yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri lumayan besar, 3,9 hingga 4,9 persen.
Tidak ada perbedaan antara wanita dan pria soal kecenderungan untuk bunuh diri akibat bullying di kantor. Namun Morten mengidentifikasi ada dua faktor mengapa korban bullying yang pernah memiliki pemikiran untuk bunuh diri akhirnya melakukannya.
Pertama adalah pikiran untuk bunuh diri sudah ada sebelum terjadinya bullying. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan seseorang di rumah, masalah ekonomi hingga masalah keluarga.
Sementara yang kedua, pikiran bunuh diri muncul akibat terjadinya bullying. Pekerja yang tidak tahan dan merasa dikucilkan atau direndahkan akhirnya memilih bunuh diri karena tidak bisa melarikan diri ataupun keluar dari keadaannya yang sekarang.
Baca juga: Segudang Manfaat Senyum untuk Anak, Hindari Bullying Hingga Bikin Pede
(mrs/up)











































