Senin, 05 Okt 2015 19:04 WIB

Sempat Dirawat di RSJ, Ini Kisah Bambang Sembuh dari Skizoafektif

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Bambang dan istrinya. Foto: Radian Nyi Sukmasari
Jakarta - Tahun 1996, Bambang Rujito (46) didiagnosis skizoafektif. Hingga ia menikah dengan Yatmi (48), gangguan jiwa yang dialami Bambang masih disembunyikan. Dua tahun menikah, skizoafektif Bambang kambuh dan Yatmi baru mengetahui suaminya mengidap gangguan jiwa.

Yatmi pun dengan pasrah, sabar, dan ikhlas menerima kenyataan jika suaminya mengalami gangguan jiwa. Sempat tinggal di Bekasi selama beberapa tahun, di tahun 2002 akhirnya Bambang dirawat di RS Jiwa Magelang. Di sana, ia diawasi oleh keluarganya sedangkan Yatmi yang bekerja di salah satu pabrik di Bekasi, dengan rutin menjenguk Bambang.

Skizoafektif merupakan gangguan jiwa yang merupakan kombinasi dari skizofrenia dan gangguan afektif. Skizo afektif ditandai dengan fase manik dan depresif.

"Kalau lagi kambuh, saya bisa merasa percaya diri sekali. Senang berlebihan, sedih berlebihan. Dengar lagu atau cerita yang sedih aja udah nangis. Nanti saya merasa saya ini orang yang paling tahu, paling hebatlah," kisah Bambang di sela-sela pemutaran salah satu film Pekan Proyeksi Jiwa di Unika Atmajaya, Jakarta, Senin (5/10/2015).

Awal menjalani pengobatan di RSJ, Bambang mengaku sempat merasa marah, sedih, dan terbuang. Bahkan, sesekali ia merasa marah pada Tuhan mengapa hanya dia yang mengalami kondisi tersebut, bukan orang lain. Namun, Bambang berusaha menyadari jika masing-masing manusia memiliki garis kehidupan sendiri. Dan apa yang ia alami semata adalah cobaan dan ujian dari Tuhan.

Berangkat dari pengalamannya, Bambang menuturkan jika dukungan keluarga dan orang di sekitar amat penting untuk proses penyembuhannya. Termasuk kunjungan keluarga tiap sepuluh hari sekali dikatakan Bambang mampu mempercepat kesembuhannya.

"Dalam keadaan gimana pun, keluarga, saudara bisa tetap nerima. Bahkan saat saya kambuh, tetangga satu RW patungan untuk bawa saya berobat. Sepulang berobat, saya juga diperlakukan seperti orang yang tidak pernah sakit. Tetap diundang ke hajatan, diajak jumatan bareng," kata pria yang kini mengajar kursus Bahasa Inggris ini.

Dalam menghadapi Bambang yang mengidap skizoafektif, Yatmi mengatakan dirinya hanya berusaha sabar, ikhlas, dan pasrah. Ia yakin bahwa segala sesuatu yang ia miliki harus dijaga. Begitupun suami, menurut Yatmi, setelah akad, Bambang sudah menjadi miliknya hingga ia harus menerima kondisi Bambang dengan ikhlas dan sabar. "Itu sudah skenario Tuhan," ujar Yatmi.

Baca juga: Membatik Bisa Jadi Terapi Bagi Pasien Skizofrenia

Bambang mengatakan, salah satu penyebab dirinya mengalami skizoafektif yakni putus cinta dan pastinya ada permasalahan yang lain. Awal mengalami skizoafektif, Bambang sering tidak bisa tidur semalaman dan merasa pusing. Namun, dengan rutin konsumsi obat, kini Bambang bisa mudah tidur bahkan konsumsi obat-obatan pun sudah disetop.

Dalam menghadapi pasien skizofrenia atau gangguan jiwa lainnya, Bambang berharap masyarakat bisa berperan aktif mendukung si pasien, tidak hanya melihat dari sisi negatifnya saja tapi lihat dari sisi positifnya. Menurut Bambang, hargailah si pasien sebagai manusia dan bantu dia mempermudah penyembuhannya.

Sementara untuk si pasien, Bambang berpesan berusahalah akui jika dirinya sakit sehingga ada kemauan untuk sembuh. Lalu, patuhi aturan untuk minum obat sesuai anjuran dokter.

Kisah Bambang ini dijadikan film dokumenter berjudul 'Memory of My Face' oleh antropolog Amerika Serikat, Dr Robert Lemelson. Awalnya, Bambang tidak mengetahui proses shooting yang dilakukan untuk mendokumentasikan kesehariannya.

"Setelah saya dibilang film ini didokumenterin, untuk edukasi masyarakat dan menyadarkan orang lain soal skizofrenia dan kesehatan jiwa ya nggak apa-apa. Sekarang alhamdulillah saya sudah tidak sakit, mudah mudahan sehat terus. Kadang kalau lihat film itu ada sih rasa malu kenapa dulu begitu ya," kata Bambang sembari tersenyum.

Baca juga: Punya Kemiripan, Ini Beda Bipolar dengan Skizofrenia

(rdn/vit)