Selasa, 13 Okt 2015 13:35 WIB

Pentingnya Asuhan Paliatif Bagi Pasien Penyakit Stadium Terminal

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Fuse Foto: Fuse
Jakarta - Pada dasarnya, ketika didiagnosis penyakit apapun, seseorang bisa merasa shock bahkan putus asa. Depresi dan tidak memiliki harapan hidup bahkan dialami oleh pasien penyakit dengan stadium terminal. Nah, di sinilah asuhan paliatif dibutuhkan.

Lynna Chandra selaku pendiri Yayasan Rumah Rachel menuturkan ketika didiagnosis penyakit apapun, pasti ada ketakutan. Misalnya pada anak timbul ketakutan apakah ia masih bisa main, pada remaja ada ketakutan bagaimana reaksi teman-temannya saat mengetahui dirinya sakit, dan jika seorang ibu yang didiagnosis suatu penyakit, ada kekhawatiran misalnya bagaimana masa depan anaknya kelak.

Menurut Lina, ketakutan itu jarang ditangani di bidang medis. Maka dari itu, asuhan paliatif amat penting. Asuhan paliatif tidak hanya menekankan pada gejala fisik tapi juga terhadap aspek emosional, psikososial-ekonomi, dan spiritual sebagai upaya memenuhi kebutuhan perbaikan kualitas hidup pasien.

"Paliatif tidak hanya untuk orang menjelang ajal saja, atau untuk pasien kanker aja, tapi untuk semua orang yang didiagnosis penyakit terutama penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau sudah menginjak stadium terminal. Paliatif meningkatkan kualitas hidip dengan deteksi dini, penangangan gejala dan peningkatan aspek psikososial dan spiritual," terang Lynna.

Hal itu ia sampaikan di sela-sela Konferensi Pers 'Memasyarakatkan Asuhan Paliatif, Meningkatkan Kualitas Hidup Insan Indonesia' di Ocha Bella Resto, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta, Selasa (13/10/2015).

Baca juga: Harapan adalah 'Obat' Nomor Satu untuk Kalahkan Kanker 

Untuk itu, di tahun 2006, Lynna mendirikan Rumah Rachel yang memberi layanan paliatif pada pasien terutama dari kalangan kurang mampu. Nama Rachel sendiri diambil dari nama teman Lynna yang meninggal karena kanker. Selama sakit hingga meninggal, Rachel bisa memiliki kualitas hidup yang baik dengan adanya dukungan dari keluarga dan teman.

"Untuk itu tujuan didirikannya Rumah Rachel yakni memberi kepastian bahwa asuhan paliatif bisa diberikan ke semua orang. Dengan kita membuka hati atas kondisi orang lain, kita bisa melihat dengan nyata apa yang ada di depan kita dan bisa bertindak. Bagi pasien penyakit stadium terminal, hidup tanpa kesakitan adalah kemewahan," tutur Lynna.

Hanya saja dalam praktiknya, pemberian asuhan paliatif menemui berbagai hambatan seperti kurangnya pemahaman masyarakat tentang asuhan paliatif, masalah sosial budaya di mana banyak orang jarang mau bicarakan 'nyeri hati'nya atau ketakutan akan kematian. Kemudian, kurangnya keterampilan dan kapasitas tenaga kesehatan dan regulasi tentang obat nyeri.

"Negara diharap bisa memproses peningkatkan akses obat nyeri, dimasukkan pula asuhan paliatif di pelatihan tenaga kesehatan, dan layanan asuhan paliatif di tingkat fasilitas kesehatan primer,"

Untuk itu, Rumah Rachel juga memberikan pelatihan layanan paliatif dengan mendayagunakan pegawai puskesmas, kader-kader, LSM, dan karang taruna. Sebab, asuhan paliatif bukan hanya diberikan oleh tenaga kesehatan tapi juga masyarakat. Sampai September 2015, Rumah Rachel sudah menyentuh 2.088 pasien dan keluarga, 312 mahasiswa keperawatan, 1.619 tenaga kesehatan, dan 1.817 anggota komunitas.

Baca juga: Berkat Teknologi, Pasien Penyakit Parah Bisa Konseling Spiritual Jarak Jauh  (rdn/up)
News Feed