Selasa, 20 Okt 2015 13:36 WIB

Cerita Nurul Besarkan Anak Bungsunya yang Low Vision

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Rahma Lillahi Sativa Foto: Rahma Lillahi Sativa
Yogyakarta - Imam Mustofa terlihat lincah seperti anak-anak sebayanya. Senyum juga selalu tersungging di bibirnya, bahkan terkesan malu-malu ketika ditanya dan diperiksa oleh ahli refraksi.

Rupanya bocah berumur 9 tahun itu mengalami low vision. Gangguan penglihatan di matanya semakin buruk setelah Imam sering lupa diri saat bermain bola dengan teman-temannya.

Hal ini dikeluhkan sang ibu, Nurul saat dijumpai detikHealth usai peresmian Low Vision Center di Yogyakarta, Senin (19/10) lalu. "Sebenarnya saya kurang telaten mengikuti kesehariannya di sekolah. Kalau ditanya baru jawab tapi nggak pernah cerita sendiri," katanya.

Sang ibu mengira putranya sudah terbiasa dengan kondisi penglihatannya. Namun setelah ditanya oleh ahli refraksi yang memeriksanya, barulah Imam mengaku sembari menyunggingkan senyum tanda bersalah. Ternyata Imam gemar bermain bola hingga lupa diri.

"Sering tidak terkontrol itu kalau sudah pegang bola sama temen-temennya, sama kakaknya. Lha ini kan bola juga punya," tutur Nurul.

Menurut ahli refraksi yang memeriksa Imam, kebiasaan menyundul bola yang dilakukan Imam ternyata berpengaruh terhadap penglihatannya kini. Semula kedua mata Imam memiliki sisa penglihatan yang masih bisa ditangani dengan alat bantu, namun karena kegemarannya itu, kini hanya satu mata Imam saja yang terbilang masih baik.

Nurul dan Imam mendengarkan penjelasan dari ahli refraksi di Low Vision Center Yogyakarta (Foto: Rahma Lillahi S)

"Makanya saya bilang tadi ke anaknya, ke ibunya juga, nggak boleh nyundul bola pake kepala," ungkap sang ahli refraksi, Tiur Dianawati, Amd.RO, SKM.

Memang tidak semua anak dengan low vision harus dibatasi pergerakannya, lanjut Tiur, namun untuk kasus tertentu, seperti halnya Imam, ia terpaksa harus melakukan hal itu. Ditambah lagi Imam ternyata malas menggunakan teleskop yang sudah dibawakan olehnya sebagai alat bantu.

"Anaknya duduk nomor dua dari depan, tapi masih sering maju (ke depan papan tulis, red), atau tanya temennya. Lha teleskopnya malah ndak dipake," keluh Tiur.

Baca juga: Pertuni: Tiga-perempat Tunanetra adalah Penyandang Low Vision

Ketika ditanya kapan pertama kali mengetahui Imam terkena low vision, Nurul mengaku awalnya ia pun tak begitu memahaminya. "Tahunya diperiksakan pertama kali itu umur 4 bulan, matanya tidak bisa fokus hitam-hitamnya. Melihat ke depan nggak pernah fokus, hitam-hitamnya naik turun-naik turun," kisah Nurul.

Ibu tiga anak itu lantas membawa Imam kecil ke RSUP Dr Sardjito untuk diperiksakan. Saat itu dokter mendiagnosis Imam dengan kondisi retina yang tidak utuh. Namun ia hanya diberi saran agar Imam diberi makan-makanan yang gizinya mencukupi dan diberi stimulasi atau rangsangan.

Nurul melatih penglihatan putranya dengan stimulasi berupa pergerakan tangan maupun menggunakan benda-benda berwarna mencolok. Sembari memberikan stimulasi, Nurul rutin memeriksakan perkembangan kondisi sang buah hati ke dokter.

Imam diminta membaca dalam jarak dekat dengan menggunakan kaca pembesar didampingi ahli refraksi (Foto: Rahma Lillahi S)

Karena tak kunjung membaik, saat Imam menginjak kelas 2 SD, Nurul membawanya ke RS Mata Dr Yap dan mendapatkan diagnosis low vision dari sana. "Di situ dikasih kacamata sama teleskop, sama dikasih vitamin syaraf," lanjutnya.

Beruntung Nurul yang kebetulan berprofesi sebagai seorang guru swasta itu memiliki seorang teman yang mengalami kebutaan atau tunanetra. Sang temanlah yang memberikan arahan kemana Imam harus disekolahkan, dan perawatan apa saja yang bisa diberikan kepada si buah hati.

"Untungnya ini (Imam, red) di sekolah malah sering dapat ranking. Dulu ranking 9, ini naik jadi 6," kata Nurul tentang Imam yang kini duduk di bangku kelas 4 di sebuah SD inklusi di Yogyakarta.

Nurul juga tak pernah sekalipun mengeluh. Ia menuruti setiap anjuran dari dokter dan ahli refraksi, karena baginya ini adalah ikhtiar demi masa depan putranya kelak.

Baca juga: Minim Layanan, Penanganan Low Vision di Indonesia Jadi Keteteran (lll/up)