Selasa, 20 Okt 2015 15:36 WIB

Matanya Dibiarkan Minus, Anak Bisa Kena Low Vision Lho

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Rahma Lillahi Sativa Foto: Rahma Lillahi Sativa
Yogyakarta - Bagi orang awam, istilah low vision atau lemah penglihatan mungkin terdengar asing. Pada dasarnya ini adalah sebuah kondisi di mana penglihatan seseorang tetap mengalami pelemahan meskipun telah mendapatkan penanganan seperti operasi atau koreksi standar yaitu pemberian kacamata.

Low vision umumnya ditemukan pada lansia akibat pertambahan usia dan penyakit seperti katarak dan glaukoma. Namun sebenarnya sebagian besar kasus low vision justru terjadi karena kelainan mata yang tidak terkoreksi dalam waktu lama, bahkan sejak kecil.

"Sebenarnya dari bayi baru lahir juga udah ketahuan dia bakal ada low vision atau tidaknya. Apalagi kalau ada riwayat penyakitnya, semisal bayi lahir dengan katarak, berarti dia berpotensi terkena low vision," terang Tiur Dianawati, Amd.RO, SKM kepada detikHealth, seperti ditulis Selasa (20/10/2015).

Pada bayi, gejalanya terlihat ketika bola matanya tampak tidak fokus saat diajak berbicara, sering bergerak-gerak sendiri, atau terlihat ada putih-putih di tengah mata seperti selaput. Sedangkan pada pasien dewasa, lanjut Tiur, mereka biasanya mengeluh matanya seperti berasap, atau pandangannya berkabut.

Selain itu, risiko low vision juga dapat terlihat pada orang-orang yang mengalami keluhan seperti:
- Hanya bisa menulis dan membaca dalam jarak dekat
- Kesulitan membaca tulisan di papan tulis meski sudah memakai kacamata
- Hanya dapat membaca huruf berukuran besar
- Memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang terang
- Tidak menatap lurus ke depan ketika melihat sesuatu

Namun dari pengalamannya, penyebab low vision terbanyak pada anak berasal dari kelainan refraksi seperti miopi (rabun jauh) dan hipermetropi (rabun dekat) yang tidak terkoreksi. Tiur menuturkan, masalah biasanya bermula dari orang tua yang terkesan mengabaikan kelainan mata pada anak.

"Orang tuanya udah kita kasih tahu anaknya minus 2 misalkan, harus pakai kacamata, mereka malah 'halah baru minus 2, nggak usah pakai kacamata'. Anaknya juga bilang nggak mau pakai karena risih. Lama-kelamaan ini akan jadi ambliopia atau mata malas, itu yang kemudian memicu low vision, karena keterlambatan penanganan," jelas Tiur.

Padahal Tiur menemukan rata-rata 'bakat' low vision pada anak sudah terlihat dari sejak mulai masuk TK. Namun karena kebiasaan anak yang tidak terbuka pada orang tua, kelainan itu tidak segera ditemukan. Untuk itu, Tiur menyelipkan pesan agar sebaiknya orang tua proaktif memeriksakan penglihatan anak sejak si anak sudah bisa melihat gambar dengan jelas.

Baca juga: Pusat Layanan Low Vision Pertama di Indonesia Hadir di Yogyakarta

Lantas bagaimana menentukan risiko low vision pada anak? Secara umum, Tiur mengatakan anak dikatakan low vision jika tajam penglihatannya kurang dari 6/18 atau 3/9 (berdasarkan pengamatan dengan Snellen Eye Chart) atau kurang dari 10 derajat dari titik fiksasi, khususnya pada kasus low vision akibat glaukoma di mana mereka memang bermasalah dengan lapang penglihatan atau penglihatan periferal yang sempit.

"Bedanya dengan tunanetra, low vision meski penglihatannya kurang dari dua patokan tadi, mereka masih bisa merencanakan atau melakukan pekerjaan seperti orang dengan penglihatan normal. Kalau yang tunanetra kan harus didampingi," papar Tiur.

Bila sudah ketahuan diagnosanya seperti apa dan telah menyelesaikan tindakan medis yang diperlukan seperti operasi untuk pasien katarak, maka pasien low vision baru dirujuk ke ahli refraksi. Merekalah yang kemudian akan melakukan assessment atau penilaian untuk menentukan sisa penglihatan yang dimiliki si pasien dan alat bantu yang tepat bagi mereka agar tetap berfungsi.

Ditemui dalam kesempatan terpisah, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Aria Indrawati mengatakan, keberadaan Low Vision Center seperti yang dirintis Pertuni di Yogyakarta adalah untuk melanjutkan penanganan pada pasien low vision setelah mendapatkan diagnosa dari dokter mata.

"Meski ini permanen, tidak bisa dikoreksi lagi tetapi mereka masih punya sisa penglihatan antara 10-20 persen, lalu apa yang harus dilakukan, harus ada layanan lanjutan. Itu yang kita coba sediakan di sini," ungkapnya.

Alih-alih menjadi beban keluarga, anak-anak penyandang low vision yang mendapatkan koreksi bisa belajar dengan maksimal dan diharapkan berkembang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, imbuh Aria.
 
Baca juga: Cerita Nurul Besarkan Anak Bungsunya yang Low Vision

(lll/up)