Selasa, 20 Okt 2015 17:32 WIB

Suka Duka Tiur, 15 Tahun Menjadi Ahli Refraksi Khusus Low Vision

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Rahma Lillahi Sativa Foto: Rahma Lillahi Sativa
Yogyakarta - Karena kasusnya yang bersifat individual alias tak bisa dipukul rata, penanganan pasien low vision (lemah penglihatan) tidaklah semudah kelainan mata lain.

"Di Indonesia belum ada rumah sakit yang khusus menangani low vision, karena ini memerlukan tenaga ahli untuk menangani kasus perkasus yang sangat bervariasi," ungkap Tiur Dianawati, Amd.RO, SKM, ahli refraksi dari Low Vision Center Yogyakarta.

Kepada detikHealth, ia kemudian mengisahkan suka dukanya menjadi ahli refraksi khusus untuk penyandang low vision. Tiur mengaku baru terjun sebagai ahli refraksi khusus penyandang low vision di tahun 2000.

"Sebelumnya saya kerja di optik, itu kan hanya menangani kelainan refraksi biasa, kayak rabun jauh. Jadi saya nggak pernah tahu ada anak dengan down syndrome atau sejenisnya yang juga mengalami gangguan penglihatan," tuturnya kepada detikHealth, dan ditulis Selasa (20/10/2015).

Begitu bergabung dengan Low Vision Center, yang dulunya masih bernama The Inverso Baglivo Foundation, salah satu yayasan asing yang aktif menangani anak low vision di Indonesia, Tiur mau tak mau mengalami 'shock'. Apalagi ketika masih training, Tiur langsung diminta menangani pasien low vision di Sekolah Luar Biasa (SLB).

"Saya bilang ini anak mau diapain, baca udah tinggal begini (sembari menempelkan buku ke wajahnya). Saya bingung," katanya.

Selain sempat mogok setelahnya, wanita berusia 39 tahun itu masih belum bisa bersikap profesional karena menangis tiap kali menangani pasien ketika mendengar kisah-kisah mereka, termasuk saat orang tua pasien mencurahkan perasaan mereka kepadanya.

Beruntung lama-kelamaan Tiur akhirnya terbiasa. "Sekarang kalau tahu apa yang kita lakukan ini benar-benar bisa membantu pasien trus orang tuanya jadi optimis melihat anaknya yang masih bisa seperti anak normal jadi seneng banget," ungkapnya sembari tertawa.

Tak jarang, anak-anak low vision yang ditanganinya datang ke klinik hanya untuk memperlihatkan ranking dan hasil rapor mereka kepada Tiur. Hal ini tak pelak menjadi kebanggaan tersendiri bagi Tiur.

Baca juga: Cerita Nurul Besarkan Anak Bungsunya yang Low Vision 

Terlepas dari itu, Tiur sangat memahami bagaimana sulitnya menjadi ahli refraksi khusus low vision yang sebenarnya tidak banyak dimiliki Indonesia. Padahal menurutnya, penanganan anak dengan low vision tidak serta-merta bisa dilakukan hanya dengan memberinya kacamata biasa.

Ada kalanya meski telah diberi kacamata atau dioperasi, penglihatannya tetap melemah. "Makanya kita satu kasus tidak bisa ditangani 15 menit atau tinggal diberi kacamata. Paling cepet 30 menit, karena kita tidak hanya melakukan assessment, tetapi harus mengecek juga perbedaan tajam penglihatan sebelum pake kacamata dan setelah dikoreksi," paparnya.

Mereka juga harus mengetahui perbedaan kondisi penglihatan penyandang sebelum memakai alat bantu, baik berupa teleskop maupun kaca pembesar, dengan setelah pasien memakai alat-alat tersebut.

"Bahkan kita harus tahu dia di sekolah kayak gimana, melihat ke papan tulisnya gimana, membacanya gimana. Kita juga harus pantau tiap minimal 6 bulan sekali untuk melihat apakah alatnya masih efektif atau harus ganti ukuran," lanjut Tiur.

Tak jarang Tiur harus galak, baik kepada pasien maupun orang tuanya. Orang tua yang cenderung merasa kasihan kepada anaknya juga kerap menjadi sasaran 'amukan' Tiur karena membiarkan anak malas menggunakan alat bantu yang diberikan.

"Kan itu demi kebaikan anaknya sendiri. Mereka mikirnya kasihan, udahlah diterima aja anaknya seperti itu. Loh justru kita itu nggak mau anaknya seperti itu. Toh masih ada alat bantu, masih banyak jalan," ujarnya.

Itulah sebabnya Tiur merasa bersyukur dengan diresmikannya layanan terpadu untuk penyandang low vision seperti yang telah dirintis oleh Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Dengan begitu anak penyandang low vision memperoleh seluruh layanan yang dibutuhkan agar bisa berfungsi seperti anak-anak sebayanya yang tidak mengalami low vision.

"Dalam waktu dekat, kita ( Low Vision Center, red) juga akan bekerjasama dengan BPJS dan semua instansi terkait, karena tidak semua pasien kita dari kalangan mampu," tutupnya.

Baca juga: Matanya Dibiarkan Minus, Anak Bisa Kena Low Vision Lho  (lll/up)