Senin, 02 Nov 2015 09:11 WIB

Head to Head: Daging Olahan Vs Rokok, Mana yang Lebih Mematikan?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Baru-baru ini organisasi kesehatan dunia (WHO) menggolongkan daging olahan sebagai bahan yang bisa memicu kanker. Konsumsi harian sebanyak 50 gram daging olahan, atau setara 2 irisan bacon, disebut bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal (usus) sebesar 18 persen.

Dalam daftar klasifikasi karsinogen (bahan pemicu kanker), daging olahan digolongkan dalam kelompok 1 yakni terbukti karsinogen pada manusia. Rokok tembakau, bersama bahan-bahan lainnya seperti asbestos, lebih dulu terdaftar dalam kelompok ini.

Apakah pengelompokan ini serta-merta menyejajarkan level bahaya rokok tembakau dengan daging olahan? Ternyata tidak, hitung-hitungan matematis tetap menempatkan rokok tembakau sebagai pembunuh yang jauh lebih berbahaya.

Makna peningkatan risiko 18 persen

Editor kesehatan dari Huffingtonpost, Erin Schumaker menegaskan bahwa peningkatan risiko kanker kolorektal akibat konsumsi 50 gram daging olahan bukan 'menjadi' 18 persen. Daging olahan, sesuai pernyataan WHO, meningkatkan risiko tersebut 'sebesar' 18 persen. Sepele, tetapi ternyata memberikan pengertian yang jauh berbeda.

Menurut data dari National Cancer Institute, tiap individu di Amerika Serikat mempunyai risiko kanker kolorektal sebesar rata-rata 4,5 persen. Dengan peningkatan risiko sebesar 18 persen, artinya 2 iris bacon 'hanya' membuatnya naik menjadi 5,3 persen.

Bandingkan dengan risiko kanker paru pada perokok tembakau. Tanpa rokok, tiap individu mempunyai risiko terserang kanker paru sebesar rata-rata 7 persen. Konsumsi 1-4 batang rokok perhari meningkatkan risiko kematian akibat kanker paru sebesar 3 kali lipat atau 300 persen.

Baca juga: WHO Nyatakan Daging Olahan Bisa Picu Kanker

Tetap harus dibatasi

Bagaimanapun, berlebihan mengonsumsi daging olahan juga tidak dianjurkan. Jangankan daging merah, ikan segar pun jika digoreng atau dibakar sampai gosong juga bisa memicu kanker. Cara mengolah dan seberapa sering daging olahan dikonsumsi, turut menentukan risiko kanker.

Dikutip dari Health.com, Senin (2/11/2015), ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kanker akibat mengonsumsi daging merah maupun olahannya.

Salah satunya, potong daging kecil-kecil sebelum dimasak untuk mempercepat kematangan sehingga tidak terpapar panas berlebihan. Cara lainnya, kombinasikan asupan daging dengan bahan-bahan yang banyak mengandung antioksidan seperti buah dan sayuran segar.

Baca juga: WHO Sebut Bacon Picu Kanker, Tagar #FreeBacon Ramaikan Media Sosial

(up/up)