Selasa, 03 Nov 2015 09:03 WIB

Hate Speech dan Kesehatan Mental

Fenomena Penyebar Hate Speech Dilihat dari Kacamata Psikologi

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Fenomena hate speech atau ucapan kebencian jadi pembicaraan setelah Kepolisian Rrepublik Indonesia mengeluarkan surat edaran bahwa pelakunya dapat dikenai sanksi pidana. Hal ini dilatarbelakangi banyaknya orang terutama di media sosial yang sering mengeluarkan hate speech.

Pelaku penyebar hate speech memang seringnya menyasar isu-isu sensitif seperti suku, agama, ras, warna kulit, gender, dan kaum difabel. Polisi berharap tindakan bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku.

Terkait hal tersebut, psikolog Elizabeth Santosa berkomentar bahwa memang orang yang sering menyebarkan hate speech punya masalah psikologis. Impulsif dan kurang percaya diri biasanya adalah sifat yang dimiliki seorang pelaku.

"Impulsif dalam artian nih orang kalau lagi pengin makan apa enggak berpikir panjang lagi langsung makan. Gampang ngikutin moodnya," ujar Elizabeth ketika dihubungi detikHealth dan ditulis pada Selasa (3/11/2015).

"Manajemen emosinya berantakan atau rendah dan cenderung rakus jadi enggak mau diam duduk lihat penjelasan dulu langsung gerak cepat. Reaktif, gampang terprovokasi dan tersulut," lanjut pengajar dari Swiss German University (SGU) ini.

Pendidikan pola pikir dan pengasuhan yang tepat menurut Elisabeth adalah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terbentuknya sifat-sifat tersebut.

Sementara itu Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani Sani Budiantini Hermawan turut berkomentar bahwa fenomena ini semakin parah ketika masyarakat bereaksi terhadap pelaku. Jika masyarakat memang punya kematangan mental yang cukup maka ucapan-ucapan pelaku seharusnya tak membawa dampak banyak.

"Ketika kematangan suatu bangsa itu memang masih dianggap belum matang, memang hal-hal berbau negatif itu bisa menimbulkan dampak yang lebih besar. Bisa menular memperuncing konflik, membuat jarak antar kelompok," tutupnya. (fds/up)