Kamis, 19 Nov 2015 14:03 WIB

Ahli Sebut Dunia Sedang Menuju Kiamat Resistensi Antibiotik

Firdaus Anwar - detikHealth
Ilustrasi foto: Thinkstock Ilustrasi foto: Thinkstock
Jakarta - Studi kolaborasi yang dilakukan oleh para ahli dan dipublikasi di jurnal Lancet menemukan adanya bakteri-bakteri di Tiongkok yang betul-betul kebal terhadap antibiotik colistin. Pemberian obat pada pasien manusia maupun hewan sama-sama tak memberikan efek.

Dalam laporannya ahli mengatakan kondisi resistensi ini semakin gawat dan harus mendapat perhatian serius. Ketika semua bakteri sudah benar-benar kebal maka dunia akan memasuki era kiamat antibiotik di mana kasus infeksi kecil saja bisa membunuh karena tak ada obatnya.

Para ilmuwan dari Tiongkok mengatakan ada mutasi genetik bernama MCR-1 pada bakteri yang membuatnya kebal terhadap colistin. Mutasi tersebut ditemukan ada pada bakteri di seperlima hewan (babi), 15 persen daging mentah, dan 16 pasien.

Baca juga: WHO: Karena Resistensi Antibiotik, Tiap Lima Menit Ada Satu Anak yang Mati

Celakanya mutasi pada gen MCR-1 ini ditemukan telah menyebar ke beberapa jenis bakteri seperti E. coli, Klebsiella pneumoniae dan Pseudomonas aeruginosa. Bukti menunjukkan bahwa bakteri dengan mutasi ini sudah ada di Laos dan Malaysia.

Profesor Timothy Walsh dari University of Cardiff, Inggris, yang juga terlibat dalam studi menyebut bahwa semua 'pemain' untuk menciptakan kiamat antibiotik sudah berkumpul. Bila benar-benar tak ada intervensi oleh masyarakat dunia maka hanya tinggal menunggu waktu saja.

"Jika MCR-1 menjadi global yang bukan tak mungkin terjadi, dan gen ini menyalaraskan diri dengan gen resistensi antibiotik lainnya yang tak bisa kita hindari, maka kita akan sangat mungkin memasuki era pasca-antibiotik. Pada masa itu jika seorang pasien sakit misalnya karena E.coli, kita tak bisa melakukan apa-apa," ujar Walsh seperti dikutip dari BBC pada Kamis (19/11/2015).

Peneliti lainnya Prof Mark Wilcox dari Leeds Teaching Hospitals NHS Trust mengatakan resistensi terhadap antibiotik colistin sebetulnya dulu pernah muncul. Namun ketika itu sifat resistan tak mudah menyebar berbeda dari mutasi yang terjadi saat ini.

"Tingkat transfer gen resistensi ini luar biasa tinggi, ini benar-benar bukan sesuatu yang bagus," tutup Wilcox.

Baca juga: Menkes Berpesan Agar Masyarakat Cerdas Gunakan Obat (fds/vit)