Rabu, 16 Des 2015 16:00 WIB

Saat Keseharian Single Mother dengan Skizoafektif Diabadikan dalam Foto

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jen dan putranya, Sydney (Foto: Martha Felming-Ives)
Brooklyn - Sejak usia 15 tahun, Jen sudah mengalami gangguan mental meskipun tidak terlalu parah. Kondisi Jen pun membuat keluarganya, terutama sang adik, Martha Felming-Ives, berusaha untuk selalu memberi dukungan pada wanita yang merupakan anak sulung dari empat bersaudara itu.

"Enam tahun lalu, Jen bisa bekerja dengan teratur bahkan menikah. Tapi sejak saat itu, penyakitnya lebih serius dan dia didiagnosis dengan gangguan skizoafektif yang meliputi gejala skizofrenia dan gangguan bipolar. Padahal, selama ini Jen adalah sosok orang yang amat cerdas," tutur Martha.



Tapi kini, keadaan Jen menurun. Melakukan tugas harian seperti pergi ke suatu tempat dengan tepat waktu atau membayar tagihan kebutuhan sehari-harinya pun sulit. Pihak keluarga berusaha membantu Jen pulih, salah satunya dengan memberi tahu beberapa orang terkenal yang berhasil sembuh dari gangguan mental yang mereka hadapi.

Tapi, cara itu tak menimbulkan efek-efek pada Jen. Saat itulah, hati Martha tergerak dan ia yakin selama ini pun, tanpa disuguhi berbagai sosok selebriti yang mengalami gangguan mental, Jen sendiri sudah amat berjuang untuk kehidupannya. "Lantas mengapa kita tidak berusaha menerimanya?" ujar Martha.

Baca juga: Sempat Dirawat di RSJ, Ini Kisah Bambang Sembuh dari Skizoafektif

Martha yang juga seorang seniman menyusun beragam foto, catatan kehidupan Jen, dan kolase dari keseharian Jen yang kemudian ia satukan dalam rangkaian foto berjudul Red Parts Whole.


Jen saat menjalani terapi


"Red Part Wholes adalah seri foto yang saya ambil untuk mengabadikan momen-momen ketika kakak saya, Jen berjuang dengan gangguan mental yang sudah dialaminya sejak remaja, bahkan sampai kini ia menjadi orang tua tunggal," tulis Martha dalam situs pribadinya marthaflemingives.com, dan dikutip pada Rabu (16/12/2015).

Menurut Martha, tekanan dari keluarga atau orang lain hanya membuat sang kakak merasa lebih terisolasi. Martha yakin, Jen pasti menganggap dirinya merupakan bagian keluarga yang terpisah. Jen pun merasa cemas jika ditinggalkan hingga dengan sekuat tenaga, ia berusaha untuk bisa menjadi seseorang yang normal di mata keluarga dan orang lain.

"Menjadi hal yang rumit ketika Anda punya anggota keluarga dengan masalah mental. Ada rasa cinta, bersalah, dan marah menjadi satu. Tapi ketika kita melihat lebih dalam lagi dan melihat sisi lain orang dengan masalah mental, pasti Anda menemukan sesuatu yang berharga di sana," tutur Martha.

Baca juga: Saat Bertemu Orang dengan Gangguan Jiwa, Haruskah Menghindar?


Jen dan putranya, Sydney
(rdn/vit)