Rabu, 30 Des 2015 08:35 WIB

Kaleidoskop 2015

Februari: Wacana Menaikkan Batas Minimal Usia Menikah untuk Wanita

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Batas minimum usia pernikahan bagi wanita di Indonesia adalah 16 tahun. Padahal menurut bunyi UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, usia segitu masih tergolong anak-anak.

Anehnya, negara sendiri mendefinisikan anak sebagai seseorang dengan usia 18 tahun ke bawah. Itu artinya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan perlu dikaji ulang.

Salah satu pihak yang mendukung kenaikan batas usia untuk menikah ini adalah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dalam pernyataannya saat itu, Kepala BKKBN Pusat saat itu, Fasli Jalal mengatakan salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah banyaknya perempuan yang menikah di usia muda.

"Itu saya punya grafik bagaimana umur dengan prevalensi kekurangan gizi, kematian ibu, dan kematian anak, sangat jelas hubungannya," ujar Fasli beberapa waktu lalu.

Jika MK memutuskan untuk tidak meningkatkan batas usia nikah, Fasli mengatakan hal itu sama halnya dengan merampas anak dari hak-hak asasinya karena fisik dan mental anak di bawah usia 18 tahun belum dikatakan siap untuk memasuki jenjang pernikahan.

Baca juga: Kantor Urusan Agama Turut Didorong Sosialisasikan Kesehatan Reproduksi

BKKBN mengaku tak sendiri. Dukungan berdatangan dari sejumlah kementerian, yaitu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP-PA) dan jaringan LSM yang peduli pada hak perempuan.

dr Mujaddid, MMR, Kepala Sub Direktorat Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan mengatakan secara medis, banyak risiko kesehatan yang bisa menghantui seorang perempuan karena hamil di bawah usia 20 tahun.

"Sebenarnya dari sisi kesehatan 18 tahun juga masih belum cukup, idealnya 20 tahun ke atas. Kalau wanita hamil di bawah umur ada risiko pendarahan dan preeklampsia, nah anaknya lahir berat badan rendah dan gangguan perkembangan otak," ungkap Mujaddid.

Di sisi lain, Fasli mengakui bahwa persidangan untuk mengubah undang-undang perkawinan ini menjadi alot karena adanya penolakan dari Kementerian Agama dan tiga organisasi besar Islam (MUI, Muhammadiyah dan NU) yang khawatir kenaikan batas usia nikah akan mendorong maraknya pergaulan bebas di Indonesia.  

Lantas bagaimana hasilnya? Pada Juni lalu, Mahkamah Konstitusi menolak revisi undang-undang perkawinan tentang batas usia menikah untuk wanita. Dari 10 hakim konstitusi, hanya 2 hakim yang setuju untuk mengubah batas usia menikah dari yang semula 16 tahun menjadi 18 tahun, sehingga batas usia menikah untuk perempuan di Indonesia masih tetap di angka 16 tahun.

Baca juga: Sahkan 'Perkawinan Dini', MK Terbelah

Meski begitu, BKKBN mengaku masih tetap berupaya mengkampanyekan batas usia menikah minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Selain berencana menempuh jalur hukum untuk mendorong revisi UU lewat DPR, peningkatan usia minimal pernikahan juga dapat diupayakan lewat peraturan daerah (perda) dan juga peraturan gubernur (pergub). (lll/vit)