Senin, 04 Jan 2016 06:37 WIB

Kaleidoskop 2015

Agustus: Polusi Udara di Jakarta Sudah dalam Tahap Bahaya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Hampir setiap warga Jakarta mungkin sepakat bila polusi udara di ibukota ini sudah terlanjur parah. Ada yang sampai harus pakai masker kemana-mana, mata merah dan sesak napas setiap keluar rumah, dan ada juga yang sampai menghindari keluar rumah demi menghindari polusi.

Meski begitu, Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, Gamal Sinurat mengatakan hal ini hanya terjadi pada mereka yang tinggal di kawasan padat polusi saja.

Secara keseluruhan, tingkat polusi di Jakarta masih dikatakan dalam ambang batas aman. "Dari hasil pemantauan alat kita, masih di bawah baku mutu. Pada hari kerja saja dia tinggi tapi itu juga masih di bawah ambang baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan gubernur," kata Gamal.

Sepanjang catatan BPLHD DKI Jakarta, polutan seperti nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO), dan hidrokarbon non-metana (NHMC) semua berada di bawah ambang baku mutu. NO2 tertinggi yang pernah tercatat adalah sekitar 2,5 mikron permeter kubik dengan ambang batas 9 mikron, CO tertinggi sekitar 8 mikron permeter kubik dengan ambang batas 9, dan NHMC tertinggi sekitar 0,2 permeter kubik dengan ambang batas 0,24.

Namun pendapat berbeda dikemukakan Kepala Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat, Anwar Musaddad. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes, kadar polusi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sudah mencapai taraf berbahaya.

Polusi udara di Jakarta (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)

Terbukti dengan ditemukannya jejak polutan di 200 sampel penduduk Jabodetabek. "Sudah terdeteksi ada di biomarker (urine dan darah, red). Jadi kalau sudah ada di biomarker itu sudah pertanda, walaupun memang secara gejala belum begitu ketara," paparnya.

Polutan yang menjadi akar permasalahan dalam penelitian tersebut adalah timbal dan fosfat. Timbal banyak dihasilkan oleh asap kendaraan, pabrik, dan limbah daur ulang aki, sementara fosfat banyak ditemukan dalam pupuk pertanian.

Hal ini sesuai dengan survei lain yang mengungkapkan penyumbang 70 persen polutan di Jakarta adalah kendaraan bermotor yang jumlahnya mencapai jutaan unit. Disusul dengan asap pabrik dan polusi ruangan seperti rokok.

Baca juga: Dokter Sebut 3 Sumber Pencemaran Udara Paling Utama di Jakarta 


Prof Dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K) dari Universitas Indonesia mengingatkan, seseorang yang terlalu sering terpapar polusi udara berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. "Bisa batuk berdahak atau sesak. Namun jika sudah terlalu parah, Anda bisa mengalami Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)," ungkapnya.

Selain itu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh dr Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD-KGEH, dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), diketahui bahwa beragam jenis asap polusi tersebut paling banyak menyebabkan keluhan sakit tenggorokkan (81 persen), batuk (72 persen), dan iritasi mata (69,4 persen). Keluhan lain seperti pilek, sesak napas, sakit kepala, dan iritasi kulit juga dialami oleh lebih dari 50 persen responden.

Menurut dr Ari, beragam keluhan ini bisa terjadi karena kandungan pada asap. Asap polusi kendaraan misalnya, karena mengandung gas CO maka ia bisa mengurangi asupan oksigen dan memicu pusing, asap kebakaran hutan yang banyak partikel padat halusnya-nya juga dapat memicu batuk karena menghalangi jalan napas, dan begitu pula dengan asap rokok.

Baca juga: 5 Keluhan Warga Soal Polusi di Jakarta dan Solusinya 

Ditambahkan Dr Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSC, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan dari Universitas Indonesia, dari studi yang dilakukannya di tahun 2010 menempatkan gangguan pernapasan sebagai penyakit yang paling banyak diderita oleh warga Jakarta. Tak tanggung-tanggung, hampir 60 persen warga Jakarta mengidap gangguan pernapasan akibat polusi udara.

"Yang paling tinggi itu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) 25,5 persen. Kedua adalah penyakit jantung koroner kurang lebih 16 persen. Dan ketiga itu asma 12,6. Sisanya terbagi menjadi pneumonia dan lain-lainnya, yang kalau ditotal jumlahnya 57,8 persen," ungkapnya.

Polusi udara di Jakarta (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)

Ironisnya, menurut Budi, memakai masker saja tidak serta-merta menghindarkan seseorang dari polusi udara, terutama yang berbentuk debu dan gas.

Karena perbedaan kualitas, bisa saja debu tidak tersaring oleh masker. Masker sekali pakai yang beredar di masyarakat juga dikatakan tidak dirancang untuk menghalangi polusi. "Kalau untuk menahan polusi gas itu butuh masker khusus yang harganya bisa Rp 500 ribuan," lanjutnya.

Budi menyarankan, satu-satunya cara efektif untuk menghindari polusi udara adalah menjauhkan diri dari sumbernya, dan pilih masker yang benar-benar rapat agar partikel debu berukuran kecil tidak bisa masuk. Bisa juga dengan memasang air purifier di dalam ruangan.

Secara khusus sejumlah pakar juga meminta pemerintah DKI Jakarta untuk mengatur batasan usia pakai kendaraan bermotor, terutama pada moda transportasi publik seperti metromini dan Kopaja, apalagi jika kemudian pemerintah ingin menggalakkan penggunaan moda transportasi publik untuk mengurai kemacetan sekaligus mengurangi tingkat polusi udara di ibukota. (lll/up)
News Feed