Senin, 04 Jan 2016 13:15 WIB

Kaleidoskop 2015

Oktober: Anak-anak Malang yang Jadi Korban Kabut Asap

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Hasan Al Habshy Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Terpapar kabut asap selama berbulan-bulan tentu tidak baik bagi kesehatan, apalagi bagi anak-anak. Namun tak disangka, kabut asap yang menyelimuti sebagian Sumatera dan Kalimantan beberapa waktu lalu benar-benar menimbulkan duka mendalam.

Kementerian Sosial mencatat selama terjadinya kabut asap, total terdapat 19 orang yang meninggal dunia, di mana beberapa di antaranya adalah anak-anak.

Seorang bocah perempuan bernama Muhanum Anggriawati (12) meninggal dunia, diduga usai terpapar kabut asap yang semakin pekat di kotanya, Pekanbaru. Saat itu Hanum tengah bermain. Tiba-tiba saja ia terjatuh dan tak sadarkan diri lagi.


Menurut keterangan dokter di RSUD Arifin Achmad, tempat Hanum dirawat, bocah malang ini mengalami penumpukan lendir di tenggorokan dan paru-parunya. Hanum meninggal pada

Kisah lain datang dari Palangkaraya. Seorang bayi yang baru berumur 45 hari bernama Ratu Agnesia meninggal dunia akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menurut penuturan ibunya, Ratu sempat mengalami batuk, sesak napas, bahkan susah bernapas dan kejang-kejang serta demam sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.

Namun berdasarkan keterangan Kepala RSUD Doris Sylvanus di mana Ratu sempat dirawat, bayi ini sempat mengalami diare selama beberapa hari hingga akhirnya mengalami dehidrasi berat. Saat dibawa ke IGD dan diupayakan diberi pertolongan, dehidrasinya sudah berat, sehingga gagal napas dan meninggal dunia.

Baca juga: Mensos: 19 Orang Meninggal Akibat Dampak Asap

Selain Hanum dan Ratu, ada juga Ramadhan Lutfi (9). Menurut sang ayah, Heri, putra sulungnya itu tidak memiliki riwayat penyakit paru-paru. Namun suatu hari, sepulang bermain bocah asal Pekanbaru itu mulai mengeluh badannya panas.


Menjelang Maghrib, Lutfi yang berada di dalam kamar tidak menjawab sahutan dari sang ayah, sehingga Heri memutuskan menengok anaknya. Di situ ia melihat Lutfi muntah-muntah.

"Saya bersihkan badannya, saya kasih obat demam. Saya sempat tanya, mau makan apa biar dibawakan ibunya yang sedang jaga kedai di pasar. Dia pesan nasi goreng agak pedas," tutur Heri.

Sang ibu kemudian pulang membawa nasi goreng yang dipesan Lutfi. Tak lama, Lutfi muntah lagi, bahkan ia kejang-kejang sampai mengeluarkan kotoran. Heri lalu membawa anaknya ke RS Santa Maria.

"Saya melihat tim medis memberikan oksigen dan memompa di bagian dada anak saya. Tapi setelah tiga jam, anak saya tak ada perubahan apapun dan layar monitor semuanya datar. Dan akhirnya anak saya meninggal," kata Heri

Heri menerangkan, tim medis di RS Santa Maria mengatakan, Lutfi telah mengalami penipisan oksigen di dalam paru-parunya. Saat dikonfirmasi, pihak RS mengatakan Lutfi dibawa ke RS dalam keadaan sudah dalam keadaan berat. Namun tidak dapat dipastikan apakah kondisinya terkait paparan kabut asap atau bukan.


Kabar duka lain datang dari seorang perempuan bernama Rhia, asal Pasir Putih, Jambi. Lewat postingan di Facebook-nya Oktober lalu, ia menuliskan kabar duka terkait putrinya Nabila yang meninggal dunia di usianya yang baru berusia 15 bulan.

'Cukup anak hamba ya Allah yg jadi korban akibat asap yang tidak kunjung berhenti, jgan lagi ada korban lain, sesak nafas, batuk, pilek akibat kabut asap dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab', demikian tulis Rhia dalam akun Facebooknya.

Rhia mengaku anaknya sehat-sehat saja, namun setelah sebulan Jambi tertutup kabut asap, anaknya mulai batuk-batuk. Selama sebulan itu pula Nabila dikatakan selalu batuk dan muntah dahak, juga sesak napas.

Sayangnya karena keterbatasan ekonomi, Rhia dan suaminya tak bisa membawa Nabila ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Hanya saja orang-orang di sekitar mereka menduga si kecil terkena pneumonia akibat terpapar udara yang buruk.

Baca juga: Anak Terpapar Kabut Asap, Bisakah Menyebabkan Kanker Paru?

dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR dari RSUP Persahabatan menjelaskan, risiko kematian langsung akibat kabut asap tidak ditemukan dalam berbagai literatur dan penelitian.


"Kalau untuk kematian langsung saya kira tidak bisa. Maksudnya orang terpapar asap lalu meninggal itu tidak ada. Tapi kalau yang sudah ada penyakit misalnya penyakit paru kronik lalu kena asap jadi semakin parah penyakit dan meninggal memang bisa," jelas dr Agus.

Selain karena penyakit yang sudah diderita terlebih dahulu, seseorang juga bisa meninggal akibat paparan kabut asap dalam jangka panjang dan banyak, sebab paparan seperti ini dapat memicu gangguan pernapasan kronis seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), termasuk penyakit kardiovaskular.
 
Kemenkes juga menyebut, anak-anak paling rentan terkena dampak kabut asap mengingat sistem pernapasan dan imunnya belum sempurna.
 
"Anak makin kecil itu saluran pernapasannya masih sangat rentan. Dengan adanya asap itu bisa bikin iritasi di saluran napas dan jadi saluran masuk untuk kuman bakteri karena seperti dilukai kan. Dia akan terinfeksi secara sekunder," jelas Direktur Bina Kesehatan Anak Kemenkes, Jane Soepardi, MPH.

Oleh karena itu, kerentanan ini harus ditangkal dengan penggunaan masker serta mempertahankan daya tahan tubuh mereka. Salah satunya dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, serta banyak minum air putih.
 
"Daya tahan anak itu harus baik. Kalau daya tahan tubuhnya semakin jelek maka tubuh akan kalah jadi bisa sakit," sarannya. (lll/up)
News Feed
CNN ID
×
Layar Demokrasi
Layar Demokrasi Selengkapnya