ADVERTISEMENT

Senin, 04 Jan 2016 14:15 WIB

Kaleidoskop 2015

Oktober: Peredaran Pesan Broadcast tentang Ikan Lele yang Memicu Kanker

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Karena lekat dengan keseharian, sejumlah broadcast message (BBM) yang beredar di Indonesia seringkali menjadi buah bibir. Salah satu yang cukup menarik perhatian di tahun 2015 adalah beredarnya informasi yang menyebut dalam sesuap daging ikan lele terkandung 3.000 sel kanker.

Dalam BBM berbentuk artikel itu disebutkan, alasan pertama adalah karena ikan lele doyan mengonsumsi segala jenis limbah di perairan. Kebetulan artikel itu merujuk pada sebuah peternakan lele di Kota Haikou, Tiongkok. Di peternakan itu, lele di sana diberi makan kotoran manusia.

Selain itu di habitat aslinya, lele atau catfish juga dikenal sebagai spesies ikan yang sangat tangguh. Ia memiliki alat pernasapan tambahan berupa labirin yang mampu membuatnya bertahan hidup dalam kondisi perairan berlumpur bahkan tercemar. Agaknya, fakta inilah yang kemudian memunculkan dugaan soal akumulasi racun karsinogen (penyebab kanker) dalam tubuh ikan lele.

Baca juga: Nutrisi di Ikan Lele: Asam Lemak Sehat Hingga Asam Folat

Untungnya rumor ini dibantah oleh ahli kanker dari Perhimpunan Onkologi Indonesia, dr Dradjat R Suardi, SpB(K)Onk. Saat dimintai keterangan oleh detikHealth, ia mengatakan belum ada penelitian yang menyatakan jika ikan lele dapat memicu kanker jika dimakan.


Faktanya, ikan lele justru mengandung banyak nutrisi penting, seperti protein dan asam lemak omega tiga, yang disebut-sebut setara dengan kandungan dalam ikan salmon. Dr dr Luciana B Sutanto, MS, SpGK dari RS Cipto Mangunkusumo menjelaskan, perbandingan omega 3 dan omega 6 pada ikan salmon adalah 1:4 dan 1:6, sedangkan pada lele 1:4.

Ikan lele juga disebut aman dikonsumsi ibu hamil, dan diolah dalam bentuk apapun sesuai selera. Namun ia mengingatkan, hindari menggunakan minyak goreng yang digunakan berkali-kali.

Pendapat senada dikemukakan dr Dradjat. "Berbeda jika menggunakan minyak yang digunakan berkali-kali, bisa jadi memicu kanker. Namun itu bukan dari ikan, melainkan dari minyaknya tersebut," katanya.

Kendati demikian, hubungan antara minyak yang dipakai berkali-kali dengan risiko kanker itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Selama ini, minyak trans yang terbentuk akibat pemanasan berulang lebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Baca juga: Catat, Begini Cara Memilih Lele yang Sehat

Berbeda dengan di Tiongkok, di Indonesia ikan lele yang beredar di pasaran bukan berasal dari alam liar, melainkan dibudidayakan di kolam-kolam yang bebas dari pencemaran. Pakan yang diberikan juga tidak sembarangan dan tidak mengandalkan limbah.


Popularitasnya pun nyaris tak pernah surut. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut produksi lele pada 2013 mencapai 543,461 ton, meningkat dari 441,217 ton pada 2012 dan 337,577 ton pada 2011.

Konsumsi ikan lele menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat 29,98 kg/kapita/tahun, naik dari 22,58 kg/kapita/tahun pada 2004. Di Jakarta saja tak kurang dari 6.000 lapak pecel lele telah terdaftar di Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI).

(lll/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT