Jumat, 08 Jan 2016 15:30 WIB

IDI: dr Randall Tak Lakukan Malpraktik Tapi Tindakan Kriminal

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Terkait kematian Allya Siska Nadya setelah menjalani terapi di Chiropractic First Pondok Indah Mal (PIM) 1, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut bahwa apa yang dilakukan dr Randall Cafferty bukan malpraktik, tetapi tindakan kriminal.

"Di sini, Randall tidak melakukan praktik kedokteran modern sehingga dianggap dia melakukan praktik gelap. Ini termasuk malpraktik? Tidak. Dalam kedokteran modern, malpraktik merupakan tindakan yang tidak mengikuti prosedur operasional dari kedokteran modern," tegas Ketua Umum IDI Prof Dr I Oetama Marsis, SpoOG (K).

"Tapi pada kasus Randall ini, kami anggap dia tidak melakukan praktik kedokteran modern. Sehingga, dia tidak melakukan malpraktik tapi melakukan suatu tindakan kriminal terhadap pasien," lanjut Prof Marsis di Kantor IDI, Jl Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta, Jumat (8/1/2016).

Prof Marsis mengungkapkan, berdasar dokumen yang ditelusuri, Randall memang seorang dokter tapi yang mempelajari soal chiropractic. Di tahun 2013, Randall memang melakukan malpraktik di bidang kedokteran modern dan tindakan kriminal sehingga izin praktiknya dicabut.

Baca juga: dr Randall sang Chiropractor Kabur, Ini Curhatan Ibu Pasien

"Dia masuk ke sini bisa jadi sebagai wisatawan, tapi bekerja di salah satu klinik chiropractic. Harusnya kalau dia bekerja di layanan masyarakat, dia seorang dokter, dia mendapat surat izin praktik. Tapi Randall tidak mendapat izin dari Kemenkes atau KKI sehingga kami anggap dia dokter praktik gelap," kata Prof Marsis.

Ia menambahkan sampai saat ini, chiropractic di Indonesia masih masuk ke dalam pengobatan tradisional sehingga pengaturannya berada di bawah Kementerian Kesehatan. Untuk menjadi chiropractor, menurut Prof Marsis tidak perlu seorang dokter. Pun seorang chripractor tersebut adalah seorang dokter, maka dia harus punya izin praktik sebagai dokter.

"Sampai saat ini pun KKI belum menerbitkan Surat Tanda Registrasi (STR) untuk dokter asing yang praktik di Indonesia, kecuali STR sementara sebagai ahli teknologi, keperluan riset, dan penanggulangan bencana alam nasional," pungkasnya.

Baca juga: Belajar dari Kasus Allya, Jangan Mudah Percaya pada Dokter Asing

(rdn/vit)