Sabtu, 23 Jan 2016 16:29 WIB

Gigihnya Ibu-ibu Pedagang di Bali Perjuangkan Kesehatan Reproduksi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: AN Uyung Pramudiardja
Badung - Sepintas tak ada yang berbeda dari Pasar Badung, dibandingkan dengan pasar tradisional lainnya. Baik pedagang maupun pengunjungnya didominasi oleh kaum ibu, meski banyak juga wisatawan yang membaur di pasar tradisional terbesar di Bali ini.

Nyoman Sinar (70 tahun) adalah salah seorang pedagang di Pasar Badung. Ibu dari 4 anak sekaligus nenek dari 6 cucu ini berjualan pernak-pernik sesaji di salah satu los, persis di belakang salah satu pos keamanan. Seperti kebanyakan pedagang yang lain, ia selalu ramah menyapa pengunjung.

Namun ada satu yang membedakan Nyoman dengan pedagang pasar lainnya. Selain menawarkan dagangan, ia juga membagi-bagi brosur tentang HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus-Acquired Imuno Deficiency Syndrome) dan kesehatan reproduksi. Kadang-kadang, ia bahkan menawarkan kondom gratis.

"Awalnya banyak yang risih, terutama bapak-bapak. 'Ini apa sih?' katanya. Tapi lama-lama banyak juga yang ingin tahu," tutur Nyoman, Sabtu (23/1/2016).

Bersama belasan relawan lainnya, Nyoman menjadi peer educator atau penyuluh sebaya bagi ibu-ibu pekerja di Pasar Badung. Beberapa adalah pedagang seperti Nyoman, dan sebagian lainnya adalah kuli angkut. Mereka tergabung dalam Yayasan Rama Sesana (YRS).

Baca juga: Hendak Ajarkan Anak Pendidikan Seks? Jangan Lupa Pakai Prinsip 'Praise'

Nyoman Sinar (Foto: AN Uyung P)
Direktur YRS, dr Luh Putu Upadisar alias dr Sari menjelaskan bahwa organisasi nirlaba ini sudah berdiri sejak 1999. Selain rutin mengadakan penyuluhan di lantai 4 Pasar Badung, yayasan ini juga menyediakan layanan deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, serta infeksi menular seksual.

"Sebagian besar perempuan berpenghasilan rendah di Bali tidak punya akses terhadap informasi kesehatan, serta layanan kesehatan dengan biaya yang terjangkau," kata dr Sari menjelaskan latar belakang berdirinya YRS.


Kebutuhan akan informasi tentang kesehatan di kalangan ibu-ibu di pasar sangat tinggi, dan informasi cenderung cepat menyebar di antara mereka. Oleh dr Sari, kondisi tersebut dianggap sebagai peluang untuk memberdayakan kaum ibu untuk mencapai derajat kesehatan yang lebih baik.

Soal biaya pelayanan, dr Sari menjelaskan bahwa YRS menggunakan pendekatan donasi. "Semampunya mereka saja. Kalau mampu boleh bayar, kalau tidak juga silakan saja tidak perlu bayar," jelas dr Sari.


Sejak 2005, tercatat 21.246 orang telah mengakses layanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana di klinik YRS. Dari angka tersebut, mayoritas yakni 68 persen adalah perempuan, 26 persen laki-laki, dan 6 persen anak-anak.

Pemeriksaan payudara tercatat 14.220 kali, pap smear untuk deteksi dini kanker serviks sebanyak 7.683 kali, tes infeksi menular seksual 17.265 kali, dan VCT (Voluntary Counseling and Test) untuk HIV sebanyak 3.161 kali.

Perjuangan dr Sari dan para relawan di YRS bukan tanpa kendala. Selain soal kebijakan pemerintah yang tidak selalu memprioritaskan kesehatan reproduksi, kesehatan seksual yang masih dianggap sebagai isu sensitif juga dianggap sebagai tantangan tersendiri.

"Untungnya, masyarakat Bali sangat open. Tidak banyak penolakan," kata dr Sari.

Baca juga: Beri Pendidikan Reproduksi untuk Anak, Orang Tua Harus Punya Bekal Cukup
dr Sari di depan klinik Yayasan Rama Sesana (Foto: AN Uyung P)
(up/lll)