Senin, 25 Jan 2016 07:36 WIB

Remaja Bicara KB, Nikah Dini dan Kesehatan Reproduksi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Para remaja dari berbagai negara mendiskusikan KB dalam pre-conference ICFP 2016. (Foto: AN Uyung Pramudiardja)
Nusa Dua - Populasi remaja di Indonesia mencapai 30 persen dari jumlah penduduk. Keterlibatan kelompok ini dinilai penting untuk mendukung keberhasilan program KB (Keluarga Berencana).

Youth Volunteer dari UNFPA, Anggraini Sari Astuti mengatakan ada banyak hal yang bisa dilakukan remaja dalam mendukung program KB. Perempuan yang akrab disapa Anggie ini tidak sepakat dengan anggapan bahwa urusan KB hanya untuk pasangan yang sudah menikah.

"KB bukan cuma soal kontrasepsi tapi termasuk juga bagaimana merencanakan pernikahan. Nah, itu harus dimulai sejak remaja," kata Anggie, ditemui dalam pre-conference ICFP (International Conference on Family Planning) 2016 di Nusa Dua, Bali, Minggu (24/1/2016).

Baca juga: Gigihnya Ibu-ibu Pedagang di Bali Perjuangkan Kesehatan Reproduksi

Terkait kesehatan seksual dan reproduksi, data BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana) menunjukkan angka perkawinan usia remaja di beberapa daerah masih sangat tinggi. Di Kalimantan Selatan misalnya, sebanyak 0,2 persen remaja putri sudah menikah di bawah usia 15 tahun.

Perkawinan di usia terlalu dini berkaitan dengan kehamilan berisiko, sehingga turut menyumbang tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2012 mencatat AKI masih mencapai 359 kasus per 100.000 kelahiran hidup.

Lalu apa yang bisa dilakukan remaja? Menurut Anggie, menjadi peer educator atau penyuluh sebaya adalah salah satu bentuk keterlibatan remaja dalam masalah tersebut. Tidak selalu harus melalui forum resmi, jejaring sosial di internet juga bisa dimanfaatkan.

"Pengguna twiter di Indonesia termasuk paling tinggi, lebih tinggi dibandingkan Tokyo, London, dan US (United States)," kata Anggie.

Baca juga: Ini Untungnya Sosialisasikan Kesehatan Seksual di Pasar Tradisional

Soal layanan kesehatan yang ramah remaja, Anggie mengeluhkan jam buka Puskesmas yang biasanya hanya buka di jam-jam sekolah. Perasaan 'tidak nyaman' juga masih sering dialami remaja putri saat mengakses layanan dokter kandungan dan kebidanan. (up/vit)