Senin, 25 Jan 2016 08:35 WIB

Inspiratif! Kaum Muda di Bengkulu Kampanyekan 'Stop Bertanya Kapan Nikah'

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: Thinkstock
Nusa Dua - Angka pernikahan dini di Bengkulu tercatat masih cukup tinggi. Bagaimana tidak, di provinsi ini laki-laki yang tidak kunjung menikah akan dilabeli sebagai bujang lapuk.

Pada perempuan, tekanan bahkan lebih besar. Selain mendapat label sebagai perawan tua, anak perempuan yang tidak segera menikah akan dianggap membebani keluarga. Maka, begitu ada yang melamar maka anak perempuan langsung dinikahkan meski umurnya masih belasan tahun.

"Nikah dininya tinggi, dan kekerasan juga tinggi di Bengkulu," kata Yulesti, Ketua Harian Forum GenRe (Generasi Berencana) Provinsi Bengkulu, ditemui di sela-sela youth pre-conference ICFP (International Conference on Family Planning) 2016 di Nusa Dua Bali, Minggu (24/1/2016).

Resah dengan kondisi tersebut, Yulesti dan kelompoknya menggagas sebuah kampanye untuk menekan pernikahan dini. Kampanye untuk tidak buru-buru menikah ini mulai disisipkan dalam lomba futsal untuk remaja, yang mereka gelar akhir Desember 2015 yang lalu.

"Nah dalam lomba futsal tersebut, untuk pertama kalinya kita sosialisasikan pesan 'stop bertanya kapan nikah'," kata Yulesti, seperti ditulis pada Senin (25/1/2016).

Baca juga: Remaja Bicara KB, Nikah Dini dan Kesehatan Reproduksi

Menurut Yulesti, respons para remaja pada umumnya positif. Namun bukan berarti penolakan. Sebagian remaja beranggapan, nikah muda adalah hak asasi. "Kalau sudah kebelet berhubungan seks, daripada haram dan berbuat dosa, mending nikah saja," kata Yulesti, menirukan komentar-komentar miring yang diterimanya.

BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) merekomendasikan, usia minimal untuk menikah adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Pada perempuan, pernikahan di usia terlalu muda banyak dikaitkan dengan kehamilan berisiko.

Baca juga: Gigihnya Ibu-ibu Pedagang di Bali Perjuangkan Kesehatan Reproduksi (up/vit)