Kamis, 28 Jan 2016 13:37 WIB

Astaga! Bobot Turun Jadi 37 Kg Gara-gara Terobsesi Paha Ramping

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Facebook Kirsty Bonic Foto: Facebook Kirsty Bonic
Berkshire - Sering melihat foto-foto wanita dengan thigh gap (celah paha) di media sosial membuat Kirsty Bonnick (22) terobsesi memiliki tubuh ramping. Sebab, adanya celah paha yang cukup lebar dianggap Kirsty sebagai bentuk tubuhnya yang ideal dan langsing.

Di tahun 2013, ketika ia berkuliah di jurusan Biologi di University of Glamorgan, Kirsty merasa tubuhnya sangat buruk dengan berat badan 63 kg. Kesal dengan bentuk tubuhnya sendiri. Kirsty lantas berolahraga setiap hari selama tiga jam.

"Saya benci melihat perut saya yang tebal dan otot kaki saya yang besar. Saya ingin menjadi gadis-gadis di luar sana dengan perut rata dan ramping lalu memiliki thigh gap," kata Kirsty seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis (28/1/2016).

Di bulan Maret 2014, berat badan Kirsty turun menjadi 57 kg dan ukuran pakaiannya pun berkurang dari 12 menjadi 8. Meski teman, kekasih, dan keluarga merasa ada yang salah dengan dirinya, tapi Kirsty meyakinkan mereka bahwa dirinya baik-baik saja.

Baca juga: Makan 200 Kalori Sehari karena Anoreksia, Bobot Emma Pernah Hanya 31 Kg

Namun, thigh gap tetap tidak bisa didapatkan Kirsty hingga ia lebih nekat yakni hanya mengasup 500 kalori per hari. Kemudian, ia menambah sesi latihannya dengan melakukan kardio. Setelah pahanya mengecil, Kirsty mencoba memfotonya dan mengungganya di media sosial tapi tetap saja, ia tidak pernah bisa merasa seperti gadis-gadis lainnya.


Foto: Hotspot Media/Daily Mail


Akibat tubuhnya yang makin kurus, Kirsty hanya bisa tidur tiga jam sehari. Tulangnya yang terlalu menonjol membuat ia tak nyaman saat berbaring di tempat tidur. Di kampus pun, Kirsty mudah ngantuk, tidak konsentrasi, dan mudah tergelincir karena tubuhnya terasa lemas. Hingga di bulan September 2014, bobot Kirsty tinggal 37 kg. Kondisinya pun membuat sang ibu, Karen (49) khawatir.

"Setelah diajak ibu ke RS, saya diketahui mengidap anoreksia athletica atau hypergymnasia di mana saya terobsesi untuk berolahraga berlebihan dan membatasi makan dengan ekstrem. Awalnya, ibu mengira saya terkena diabetes karena saya kurus dan terlihat lelah," papar Kirsty.

Pada bulan Oktober 2014, kesedihan sang ibu, kekasih, dan keluarganya seakan menyadarkan Kirsty. Dengan bantuan tenaga medis dan orang tuanya, Kirsty kembali mencoba 2.500 kalori per hari. Perubahan jumlah kalori yang diasup kerap membuat ia merasa kembung, mual, dan tidak nyaman.

Meski begitu, Kirsty tetap berjuang mengembalikan berat badannya. Sampai di bulan April 2015, bobotnya bisa kembali mencapai 57 kg. Dari apa yang ia alami, Kirsty menekankan pada para remaja bahwa bersikap realistis terhadap bentuk tubuh amat penting. "Memiliki thigh gap benar-benar tujuan yang tidak realistis. Untuk itu, kita perlu sekali mencintai tubuh kita sendiri dan tak lupa untuk terus menjaga kesehatan," pesan Kirsty.

Baca juga: Susah Gemuk karena Makan Mi Instan Melulu? Salah, Justru Isinya Kalori Semua


(rdn/vit)