Selasa, 15 Mar 2016 17:35 WIB

Jangan Sebatas Publikasi, Penelitian dari Indonesia Juga Harus Komersial

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
(ilustrasi penelitian) Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Konsep penelitian yang hanya sebatas publikasi dikatakan pakar merugikan peneliti. Seharusnya, penelitian dikembangkan hingga bisa dikomersialkan.

Prof dr Amin Soebandrio, SpMK, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mengatakan penelitian yang dilakukan hanya untuk memenuhi rasa keingintahuan tidak akan berdampak banyak bagi masyarakat. Peneliti juga akan sulit melakukan penelitiannya karena terbatasnya sumber dana.

"Misalnya kuliah di luar negeri, belajarnya tentang ilmu X. Lalu pulang ke Indonesia yang diriset soal ilmu X itu saja, untuk menjawab keingintahuan. Tentunya ini kurang diminati oleh penyandang dana," tutur Prof Amin, dalam diskusi panel Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2016 di Gedung D Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (15/3/2016).

Baca juga: Mengapa Indonesia Harus Memiliki Vaksin Sendiri? Ini Penjelasan Pakar

Padahal, melakukan riset dan penelitian bukanlah hal yang mudah. Selain harus memiliki kemampuan, peneliti juga harus memastikan ketersediaan alat dan instrumen lainnya untuk penelitian.

Hal ini membuat cost atau biaya yang dikeluarkan untuk suatu penelitian menjadi mahal. Jika akhirnya penelitian tidak bermanfaat dan tidak bisa dikomersialkan, tentunya peneliti sendiri yang akhirnya mengalami kerugian.

Prof Singgih Riphat, Staf Ahli Menteri Keuangan, mengatakan insentif dari pemerintah untuk bidang penelitian memang ada. Hanya saja jumlahnya masih kalah dari negara-negara Asia lain seperti China, Thailand atau Malaysia.

"Kita cuma 0,08 persen dari anggaran. Kalau PDB (produk domestik bruto) kita misalnya 10 ribu triliun, cuma 8 triliun saja yang untuk riset dan pengembangan. Masih kalah sama Malaysia yang 0,63 persen atau Thailand yang 0,21 persen. China malah lebih jauh dia 1,47 persen," paparnya.

Untuk itu menurut Prof Amin, penting bagi peneliti untuk memiliki jiwa entrepreneur. Sebelum melakukan riset, peneliti sudah memiliki kemampuan untuk melihat pasar atau kebutuhan masyarakat. Peneliti juga diharapkan mampu menjalin komunikasi yang baik dengan industri dan pemerintah selaku penyandang dana.

"Kalau dibiayai negara kan menggunakan uang rakyat. Tentunya wajar jika masyarakat menuntut penelitian yang bisa bermanfaat bagi mereka. Jadi penelitian tidak sebatas publikasi saja," paparnya.

Baca juga: Menristekdikti Harap Keanekaragaman Hayati Indonesia Diteliti untuk Bahan Baku Obat


(mrs/up)