ADVERTISEMENT

Selasa, 05 Apr 2016 09:04 WIB

Ini Langkah Sederhana untuk Menghindari Kematian Mendadak Saat Olahraga

Hillariana ID - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Lebih dari 90 persen kematian saat olahraga disebabkan oleh serangan jantung yang tiba-tiba, panas yang mengalir akibat latihan intens (heat stroke), serta cedera kepala saat aktivitas dan penurunan aliran darah yang dapat timbul pada atlet yang mempunyai sel sabit.

"Penyebab itu sebenarnya bisa dihindari dengan memberi edukasi. Tapi, pastinya perlu usaha lebih untuk mensosialisasikan gangguan yang dapat terjadi tiba-tiba saat olahraga dan berakibat fatal," tutur dr Barry P Boden, spesialis kedokteran olahraga di The Orthopaedic Center, Rockville, Maryland.

Dikutip dari Reuters, Selasa (5/4/2016), berikut ini langkah sederhana yang bisa dilakukan guna menghindari kematian mendadak saat berolahraga:

1. Tidak lebih dari satu praktik per hari dalam lima hari pertama

The Korey Stringer Institute merekomendasikan atlet pemula atau remaja yang akan menghadapi pekan olahraga disarankan hanya menjalankan latihan tidak lebih dari tiga jam praktik per hari. Di lima hari pertama atlet bisa hanya menggunakan helm dan alat keamanan dasar lainnya. Sementara, semua peralatan pelindung dapat dipakai dan kontak penuh dapat mulai pada hari keenam.

Setelah memasuki minggu kedua, latihan bersesi dua hari harus bergantian dengan sesi satu hari. Untuk praktik dua hari dan dua sesi, masing-masing sesi harus dipisahkan oleh setidaknya tiga jam di lingkungan yang dingin. Lingkungan yang dingin ini baik untuk mencegah panas yang tiba-tiba mengalir saat latihan intens.

2. Harus diawasi oleh pelatih

Pelatih utamanya berperan mengawasi para atlet remaja yang akan menghadapi pekan olahraga selama musim gugur. Selain orang tua, sekolah juga diharapkan bisa mensosialisasikan video tentang keamanan saat olahraga agar latihan bisa berjalan dengan aman. Demi keamanan atlet-atlet remaja, sekolah juga bisa berkoordinasi dengan tim medis setempat saat pekan olahraga berlangsung.

3. Memiliki Automated External Defibrilattor (AED)

Kebijakan ini sebenarnya tidak menghabiskan uang yang banyak. Akan tetapi, banyak negara yang belum menerapkannya. Diperkirakan, harga AED berkisar Rp 13 juta. Saat digunakan, AED harus diletakkan di tempat yang terjangkau saat pertandingan berlangsung dan sekolah diharapkan memiliki lebih dari satu AED.

Baca juga: Metode 'PRINCE', Pertolongan Pertama untuk Atasi Cedera Saat Olahraga

(rdn/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT