Senin, 25 Apr 2016 13:35 WIB

30 Tahun Kesakitan Saat Makan karena Kondisi Langka

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: The Strait Times
Singapura - Chan Choon Lin selalu bertanya-tanya dalam hati mengapa selama 30 tahun terakhir ia tak pernah bisa makan dengan lahap. Tiap kali makanan masuk, ia selalu merasakan nyeri di tenggorokannya.

Tak hanya itu, minum air pun terasa menyiksa baginya, bahkan untuk menghabiskan segelas air ia membutuhkan waktu hingga 10 menit. Ironisnya, Lin bahkan tak bisa minum di saat ia kehausan.

Wanita yang berprofesi sebagai guru itu hanya bisa makan sebanyak 4-5 sendok saja. Bila rekan-rekan kerjanya bertanya mengapa ia tak pernah bisa menghabiskan makanannya, Lin selalu berkilah sedang tak enak badan atau kehilangan nafsu makan.

"Bagaimana saya bisa membicarakan kondisi ini sedangkan saya tak tahu apa-apa," katanya seperti dilaporkan The Strait Times.

Namun meski sudah diperiksakan ke dokter dan menjalani serangkaian tes, tak ada yang bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita berusia 69 tahun ini. Akhirnya Lin memilih untuk mengonsumsi makanan dengan tekstur yang lebih lembut seperti bubur atau mi kuah.

Baca juga: Susah Makan, Kerongkongan Kakek Ini Ternyata 'Mampet' Akibat Kondisi Langka

Kendati demikian, makanan tetap bisa terasa seperti 'nyangkut' di tenggorokan Lin. Ia pun terpaksa menggunakan cara manual untuk mengatasinya, yaitu mendorong makanan itu masuk ke tenggorokan dengan menggunakan jarinya.

Di tahun 2006, ibu dua anak ini akhirnya tahu apa yang terjadi dengannya. Setelah menjalani sebuah tes, Lin didiagnosis dengan sebuah kondisi langka yang disebut achalasia. Achalasia menyerang tiap 1 dari 100.000 orang di dunia, kendati penyebabnya belum pernah terungkap.

"Dari hasil tes ketahuan, Lin mempunyai otot kerongkongan bawah yang ketat dan kerongkongannya tidak memiliki gerakan peristaltik yang penting untuk mendorong makanan yang masuk. Kedua indikasi ini merupakan kunci dari achalasia," terang Prof Jimmy So dari National University Hospital.

Begitu ketahuan, Lin kemudian diresepkan untuk mendapat suntikan Botox endoskopik selama tujuh tahun ke depan. Gunanya untuk melumpuhkan otot kerongkongan sehingga ia lebih mudah menelan makanan. Sayangnya efek suntikan ini tidak berlangsung lama.

Agustus tahun lalu, Lin akhirnya menjalani prosedur baru yang disebut Peroral Endoscopic Myotomy (Poem). Dalam prosedur ini, tabung endoskopi dimasukkan ke dalam kerongkongan pasien agar dapat memotong serat otot yang mencegah makanan masuk ke perut.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan The Journal of the American College of Surgeons, 90 persen dari 500 pasien achalasia yang menjalani prosedur ini dilaporkan terbebas dari berbagai keluhan dalam tiga tahun pasca operasi.

Dan bila dibandingkan dengan prosedur yang ada sebelumnya, Poem juga lebih cepat selesai dan pasien bisa diperbolehkan pulang lebih cepat, dengan efektivitas yang sama besarnya.

Kini Lin gembira akhirnya bisa makan makanan apapun yang ia suka dan menikmatinya, bahkan tanpa perlu takut tersangkut lagi di tenggorokannya.

Baca juga: Tak Bisa Makan, Selama 25 Tahun Gadis Ini Hanya Minum Saja (lll/vit)