Senin, 25 Apr 2016 17:06 WIB

Kemoterapi Tak Menghalangi Epandri Meraih Gelar Sarjana

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Muhamad Reza Sulaiman
Jakarta - Pengobatan radiasi dan kemoterapi pada pasien kanker menghabiskan banyak waktu dan biaya. Namun bagi Epandri Susanto, pengobatan kanker tak membuatnya melalaikan pendidikan.

Pemuda asal Bengkulu yang akrab disapa Epan ini bercerita ia didiagnosis kanker kolorektal atau kanker usus besar pada bulan Februari 2015. Ya, Epan merupakan pasien kanker yang sampai saat ini masih harus menjalani pengobatan.

"Jadi pas bulan Februari itu pas saya masuk semester 7. Sedang persiapan skripsi dan kegiatan kuliah banyak sekali," tutur Epan kepada detikHealth, baru-baru ini.

Epan mengatakan saat itu ia berobat ke dokter karena buang air besar (BAB) terasa nyeri dan berdarah. Sederetan pemeriksaan dilakukan dokter, termasuk biopsi. Hasilnya, Epan positif mengidap kanker usus besar.

Baca juga: 30 Tahun Kesakitan Saat Makan karena Kondisi Langka

Saat mendengar ia mengidap kanker, Epan mengaku shock dan putus asa. Kanker biasanya diidap oleh orang dewasa, bukan anak muda sepertinya. Apalagi tidak pernah ada dalam riwayat keluarganya yang mengidap kanker.

"Saya sangat terpukul, terpuruk banget, merasa kalau dunia itu kelam. Sampai depresi, saya bilang sama keluarga kalau nggak mau berobat, biarin saya di rumah aja karena nggak ada masa depan buat saya," ungkap Epan dengan mata berkaca-kaca.

Namun dukungan dari ayah, ibu serta kakak dan adiknya membuat Epan luluh. Ia bersedia berobat dan akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Dharmais di Jakarta. Di sana, ia melihat bahwa tidak hanya dirinya yang mengidap kanker.

Pengalaman tersebut membuatnya sadar bahwa sebenarnya masih banyak orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Bekal inilah yang ia simpan dan menjadi penguat serta motivasi ketika melakukan pengobatan radiasi dan kemoterapi.

"Kalau saya lihat itu anak-anak masih kecil, masih lucu tapi sudah sakit parah. Mereka jadi diri sendiri dan masih bisa tertawa dan tersenyum. Lalu saya mikir, 'kenapa aku nggak niru mereka,' dan jadi alasan untuk semangat berobat," tuturnya lagi.

Disela-sela pengobatan mulai dari bulan Februari tahun lalu, Epan ternyata tidak melalaikan pendidikannya. Ia berhasil lulus dari Program Sastra Inggris, Universitas Dehasen Bengkulu, dan diwisuda akhir tahun lalu.

"Alhamdulillah sekali pendidikan selesai. Pengorbanan saya bolak-balik setiap habis kemoterapi dan radioterapi terbayar," urainya.

Bagi Epan, mengidap kanker bukanlah akhir dari segalanya. Memang ia sempat depresi, namun dukungan serta keterlibatannya di Cancer Information and Support Center (CISC) membuatnya sadar bahwa pasien kanker harus diberi dukungan secara penuh.

"Ketika mereka diberikan dukungan, mereka akan merasa diapresiasi secara penuh. Dan ingat, cancer bukan akhir dari segalanya. Selalu ada harapan dan jangan pernah kehilangan semangat untuk sembuh," tutupnya.

Baca juga: Cedera Saat Futsal, Kanker Tulang di Kaki Faris Baru Ketahuan (mrs/vit)