Jumat, 20 Mei 2016 18:34 WIB

Kebanyakan Minum-minum Alkohol? Mungkin Sudah Saatnya Anda Menikah

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Konon stres akibat berumah tangga kadangkala mendorong seseorang untuk melampiaskannya pada minuman beralkohol. Namun sebuah penelitian justru mengungkap hal sebaliknya.

Tim peneliti dari Virginia Commonwealth University dan Lund University di Swedia menemukan menikah menurunkan risiko seseorang untuk menyalahgunakan alkohol.

Peneliti mendapatkan fakta ini setelah mengamati lebih dari 3,2 juta orang Swedia sejak masih lajang. Ketika pada akhirnya sebagian dari mereka menikah, peneliti menemukan, partisipan yang menikah berpeluang lebih kecil untuk menjadi alkoholik ketimbang yang masih lajang hingga akhir studi.

Bahkan dari perhitungan peneliti, menikah terbukti mampu mengurangi risiko seorang pria menjadi alkoholik sebesar 59 persen, dan pada wanita sebesar 73 persen.

"Mereka yang paling rentan pada risiko alkoholik ini karena latar belakang genetik mungkin jadi yang paling peka terhadap efek perlindungan pernikahan," simpul peneliti, Kenneth Kendler yang juga psikiater.

Itu artinya partisipan yang mempunyai riwayat keluarga alkoholik akan merasakan efek paling kuat terhadap pernikahan ini.

Baca juga: Alkohol Bikin Kadar Empati Pria Berkurang

Kendati demikian, risiko ini tetap bisa muncul bila yang dinikahi memang peminum atau memiliki riwayat alkoholik dan pernah berselingkuh.

"Untuk pengecualian ini, polanya lebih cenderung terlihat pada wanita. Jadi efek positif ini hanya bisa dirasakan jika seseorang menikahi pasangan yang sejak awal tidak minum-minum sampai seterusnya," imbuh Kendler.

Kendler menjelaskan, studi ini memberikan dasar bukti yang kuat tentang pentingnya pengaruh lingkungan sosial terhadap kecenderungan seseorang untuk menyalahgunakan alkohol.

Baca juga: Pankreas sang Gadis 'Berantakan' Akibat Minum Alkohol Tiap Hari

Dikutip dari Mayo Clinic, faktor risiko alkoholik atau gangguan penyalahgunaan alkohol terletak pada lima hal; kebiasaan minum, usia muda, riwayat keluarga, adanya depresi atau gangguan mental lain, dan faktor sosiokultural.

Selain keluarga, memiliki teman atau sahabat yang punya kebiasaan minum-minum dikatakan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menyalahgunakan alkohol. Bahkan pada remaja, pengaruh dari idola atau role model-nya bisa berdampak sama kuatnya dengan pengaruh orang tua untuk minum alkohol.

(lll/vit)