ADVERTISEMENT

Jumat, 20 Mei 2016 19:33 WIB

Ayah 1 Anak Ini Sebut Gula Darahnya Lebih Stabil Usai Jalani Bypass Lambung

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Radian Nyi Sukmasari
Jakarta - Hampir 14 tahun Sihol Manullang (54) mengidap diabetes. Namun, kini ayah satu anak itu menuturkan kadar gula darahnya lebih terkontrol, usai ia menjalani operasi bypass lambung di Guangzhou, China pada bulan Maret lalu.

Pada tanggal 7 Maret lalu, Sihol menjalani operasi bypass lambung yang berlangsung selama 80 menit. Sehari setelah operasi, Sihol sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Tiga minggu pasca operasi, Sihol menuturkan kadar gulanya sudah normal.

"Waktu itu Prof Wu Liangping, ahli operasi bariatrik yang mengoperasi saya, meminta saya untuk tidak lagi minum obat diabetes dan darah tinggi. Karena menurut dia, bersamaan dengan berkurangnya lemak dalam tubuh, kadar gula dan tekanan darah tinggi akan menurun juga," kata Sihol.

Tanggal 20 Maret, kadar gula Sihol tercatat 117 mg/dL. Di hari berikutnya, kadar gula darah puasa Sihol terbilang stabil dengan kisaran 90 sampai 119 mg/dl. Tiga minggu pasca operasi pun, tekanan darah Sihol berada di angka 117 sampai 130 mmHg. Berat badan Sihol juga mengalami penurunan dari sebelum operasi 76 kg, kini menjadi 65 kg. Meskipun, Sihol masih memiliki target supaya bobotnya mencapai angka 59-60 kg.

Baca juga: Ini Rumus Pengaturan Pola Makan Bagi Pasien Diabetes

Untuk pola makan, selama tiga pekan setelah operasi Sihol mengonsumsi makanan cair seperti tajin, susu kedelai, susu, kuah sayur, atau sup tanpa minyak dan lemak. Kemudian, selama 9 minggu berikutnya, ia sudah mengonsumsi makanan lembut seperti bubur, sayur empuk, serta ikan atau daging empuk. Baru setelah tiga bulan, Sihol sudah bisa mengasup makanan seperti biasa.

"Pekan 12 kan berakhir 7 Juni. Jadi sampai sekarang saya masih makan bubur dan makanan empuk atau dikunyah lama. Makanan manis tentu dikurangi. Selain bikin gemuk kan nggak baik juga. Saat ini minum multivitamin biasa yang bisa dibeli di apotek," kata Sihol kepada detikHealth.

"Kalau makan, cepat kenyang, karena lambung memang sudah tinggal seperenam dari sebelumnya. Kemudian dengan bypass lambung nggak semua makanan yang dikonsumsi diserap tubuh. Beban pankreas jadi lebih rendah, produksi insulin yang memang tidak sebagus orang biasa jadi memadai untuk tubuh," lanjutnya.

Untuk olahraga, Sihol memilih jalan kaki. Ia berusaha bisa rutin jalan kaki minimal 4 kali seminggu dengan durasi paling sebentar 30 menit. Sihol mengisahkan, dulunya rutinitas harian sebagai pengidap diabetes yakni bangun pagi langsung minum obat. Kemudian sesudah makan kembali mengonsumsi obat. Dalam sehari, total ada 4 butir obat yang harus dikonsumsi Sihol. Namun, ia berpendapat hasilnya tidak begitu baik karena kadar HbA1C Sihol masih di atas 7 persen.

Belum lagi dalam keseharian, Sihol sebentar-sebentar harus ke kamar mandi untuk buang air kecil. Daya penglihatan mata untuk jarak dekat pun makin turun jika kadar gula darahnya sedang tinggi. Kaki Sihol juga mudah kesemutan meski hanya duduk sebentar. Ditambah badan lemas, mudah ngantuk, dan betis yang gampang pegal hingga tiap dua-tiga hari ia minta dipijat.

"Kadar gula tinggi juga bikin peredaran darah nggak lancar, akibatnya kaki terasa pegal. Bagi saya sendiri sebelum menjalani operasi bariatrik oleh Norgen Health di Asia Pacific Bariatric and Metabolic Surgery Center tidak bisa menyembuhkan diabetes jadi keyakinan saya sehingga saya tergantung pada obat-obatan medis. Tapi sekarang, gula darah saya sudah normal lagi," tutur Sihol.

Baca juga: Cegah Diabetes dengan Jalan Kaki 30 Menit


(rdn/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT