Rabu, 25 Mei 2016 14:05 WIB

Gara-gara Foto, Gadis ini Terobsesi Marathon agar Selalu Kurus

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Perbandingan foto Emma di tahun 2009 (kiri) dan saat diserang anoreksia (kanan) (Foto: News Dog Media)
Dunedin - Beberapa kali memenangkan perlombaan marathon merupakan suatu prestasi yang tak bisa diremehkan. Tetapi di balik itu, Emma Llyod menyimpan cerita pedih.

Rupanya marathon menjadi cara Emma untuk memenuhi obsesinya agar bisa kurus. Semua bermula ketika gadis berumur 21 tahun itu melihat fotonya saat mengikuti kejuaraan half marathon pada September 2009.

Emma memang sudah dibiasakan hidup sehat sejak kecil, apalagi sang ibu juga pelari dan mereka tergabung dalam sebuah klub atletik yang sama. "Itu adalah (perlombaan, red) half marathon saya yang pertama, dan tak disangka saya terlihat gemuk di foto," tutur Emma.

Saat itu juga ia mulai sering mogok makan, tak terkecuali di sekolah. Ia juga berhenti berlari dan menjadi tertutup. Begitu pun saat musim liburan, Emma malah menyibukkan diri dengan membaca blog-blog pro-anoreksia dan tak mau makan apapun.

Akibatnya, ketika harus kembali ke sekolah di bulan Februari 2010, bobot Emma tercatat turun hingga 19 kg. Karena sang ibu khawatir, Emma dibawa ke rumah sakit dan disanalah ia didiagnosis mengidap gangguan makan, anoreksia nervosa. Emma pun sempat dirawat selama beberapa bulan di Dunedin Hospital.

Emma saat dirawat karena anoreksia di tahun 2010 (Foto: News Dog Media)

Baca juga: Studi Sebut Wanita dengan Tubuh 'Apel' Lebih Rentan Kena Gangguan Makan

Setelah itu, kondisi Emma tampak membaik. Tetapi setahun kemudian, keadaan kembali memburuk ketika gadis asal Dunedin, Selandia Baru itu mulai aktif berlari lagi.

"Saya bisa berlari 37 menit lebih cepat ketimbang tahun 2009 dan ketahanan tubuh saya lebih besar. Inilah yang nampaknya membuat anoreksia itu kembali," kenang Emma seperti dilaporkan Daily Mail.

Hal itu memaksanya untuk berpuasa seharian. Kalau tidak, ia hanya mau makan sedikit buah-buahan dan sayur seperti apel atau anggur. Itu belum termasuk lari sejauh 50 km lebih sebagai bentuk 'hukuman' bagi dirinya sendiri karena memasukkan kalori ke dalam tubuhnya.

Bahkan ketika akhirnya ia masuk sekolah perawat di University of Otago pada tahun 2013, bobotnya tak lebih dari 36 kg. "Saya bisa merasakan tulang saya, dan saya kedinginan sepanjang waktu. Pembuluh darah saya sampai kelihatan," tuturnya.

Terlepas dari itu, kemampuan lari Emma semakin impresif. Di tahun yang sama, ia mengikuti Dunedin Marathon dan hanya menghabiskan waktu selama 3 jam 26 menit saja. Di sebuah ajang half marathon lain yang ia ikuti, Emma juga berhasil menyelesaikannya dalam waktu 1 jam 27 menit.

Baca juga: Ogah Makan, Ini yang Terjadi Pada Indra Perasa Pasien Anoreksia

Bobot Emma sudah kembali seperti sedia kala (Foto: News Dog Media)

Namun lama-kelamaan Emma menyadari bahwa dirinya butuh bantuan. Selain kondisi kesehatannya yang memburuk, Emma juga terancam dikeluarkan dari sekolah perawat. Hal ini lantas memaksa Emma untuk 'bertobat' di tahun 2014.

Belakangan Emma mengakui jika meski kemampuan larinya di atas rata-rata, tubuhnya tak kuasa menahan beban yang diberikan oleh Emma, sehingga ia kerap mengeluh pening dan demam saat berlari. "Rasanya saya bisa mati sewaktu-waktu saat lari. Tapi saya beruntung karena bisa bertahan sampai saat ini," katanya.

Kini bobotnya kembali normal, yaitu mencapai 67 kg. Emma juga aktif mengelola saluran YouTube pribadi untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya gangguan makan, sambil sesekali berharap suatu saat nanti kembali ke track lari. (lll/ajg)