Kamis, 26 Mei 2016 11:15 WIB

Green Tobacco Sickness, Penyakit Keracunan Nikotin dari Daun Tembakau

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Human Rights Watch Foto: Human Rights Watch
Jakarta - Nikotin adalah zat berbahaya pada tanaman tembakau yang bisa menyebabkan kecanduan. Biasanya nikotin menjadi perhatian terutama pada rokok. Namun perlu diketahui ia sebetulnya bisa juga masuk memengaruhi tubuh apabila seseorang melakukan kontak fisik dengan tembakau.

Para petani yang bekerja di ladang tembakau adalah contoh dari golongan yang rentan mengalaminya. Apabila nikotin yang masuk ke dalam tubuh terlampau banyak maka dapat timbul berbagai macam gejala yang disebut green tobacco sickness (GTS).

Menurut Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, GTS umumnya terjadi apabila daun tembakau dikelola dalam keadaan basah. Kandungan air yang ada pada daun membawa nikotin dan akan masuk ke pori-pori kulit.

Baca juga: Anak yang Kerja di Ladang Tembakau Tak Sadar Rentan Keracunan Nikotin

"Gejala GTS termasuk di antaranya mual, muntah-muntah, pusing, dan sakit kepala. Para pekerja juga telah melaporkan bahwa mereka mengalami kesulitan tidur dan makan. Gejala GTS hampir sama seperti sakit karena kepanasan dan keracunan pestisida sehingga diagnosanya sulit," tulis CDC dalam situs resminya seperti dikutip pada Rabu, (25/5/2016).

Terkait hal tersebut peneliti dari Human Right Watch (HRW) baru-baru ini mempublikasi juga studi yang melihat bahwa kemungkinan ribuan pekerja anak Indonesia rentan mengalami GTS. Efek jangka panjang dari hal ini belum diketahui namun yang jelas dalam studi dilaporkan anak jadi sering izin tak masuk sekolah karena sakit.

"Dari semua anak-anak yang kami wawancarai ini tidak ada yang pernah mendapatkan informasi atau training bahwa bekerja dengan daun tembakau itu mengandung risiko. Mereka ini biasanya membantu orang tua di ladang sebelum masuk sekolah dan setelah pulang sekolah, namun banyak yang absen terutama saat musim panen," kata Andreas Harsono selaku salah satu peneliti.

Menurut Harsono dalam studi terlihat gejala GTS umumnya akan reda sendiri apabila anak dijauhkan dari tembakau selama sekitar 30 jam. Namun pada kasus yang kronis dibutuhkan pertolongan medis karena anak bisa sampai dehidrasi.

Salah satu perusahaan rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna lewat siaran pers menanggapi studi HRW dan menyatakan bahwa mereka telah berupaya untuk memecahkan masalah pekerja anak di ladang tembakau. Salah satunya dengan cara mendapatkan tembakau lewat kontrak langsung dengan petani.

"Kontrak langsung dengan petani adalah langkah yang penting untuk meningkatkan visibilitas akan kondisi lahan dan hal ini meningkatkan kemampuan kami secara pesat dalam memantau dan mengawasi masalah-masalah pekerja di lahan, termasuk pekerja anak," tulis perusahaan.

Baca juga: Foto Miris Pekerja Anak di Ladang Tembakau yang Rentan Keracunan Nikotin (fds/up)
News Feed