Kamis, 02 Jun 2016 13:35 WIB

Praktik Sunat Ilegal pada Perempuan di Mesir Tewaskan Seorang Remaja

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Praktik ilegal sunat perempuan atau female genital mutilation kembali merenggut korban. Seorang remaja berusia 17 tahun asal Mesir meninggal akibat komplikasi setelah klitorisnya dipotong beberapa hari sebelumnya.

Dr Lofti Abdel-Samee, wakil sekretaris Kementerian Kesehatan Mesir menyebut korban bernama Mayar Mohamed Mousa, seorang remaja berusia 17 tahun asal Suez, Mesir. Mousa meninggal setelah mengalami pembekuan darah akibat komplikasi operasi pemotongan klitorisnya.

Abdel-Samee menyebut tindakan ini dilakukan di El Canal National Hospital oleh seorang dokter. Saudari kembar Mousa juga menjalani operasi yang sama namun tidak mengalami komplikasi ataupun masalah kesehatan lainnya.

Meski begitu, orang tua Mousa menolak anggapan bahwa Mousa meninggal akibat komplikasi sunat perempuan. Namun Abdel-Samee mengatakan investigasi sudah berjalan dan hasil autopsi menyebut Mousa meninggal akibat pembekuan darah yang terjadi karena tindakan pemotongan klitoris.

Baca juga: Korban 'Sunat' Wanita di Australia Berharap Bisa Operasi Restorasi Klitoris

"Ini adalah tragedi. Saya turut bersedih dengan orang tua yang kehilangan anaknya namun praktek sunat perempuan sudah dilarang di Mesir sejak tahun 2008. Frekuensi kejadiannya memang menurun. Tetapi masih ada keluarga yang melakukannya padahal tindakan ini sangat berbahaya dan harus dihentikan," tutur Dr Abdel-Samee, dikutip dari CNN, Kamis (2/6/2016).

Sekitar 92 persen wanita berusia 15 hingga 49 tahun yang sudah menikah di Mesir merupakan korban kejahatan sunat perempuan. 82 Persen praktek ilegal ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sebagian besarnya merupakan dokter.

Data Kementerian Kesehatan Mesir menyebut ada penurunan persentase praktek sunat perempuan pada remaja sejak diberlakukannya larangan pada tahun 2008. Pada tahun 2008, 74,4 persen remaja berusia 15 hingga 17 tahun menjadi korban sunat perempuan. Sementara pada 2014, jumlahnya turun menjadi 61 persen.

Dalia Abdelhameed, aktivis perempuan dari Egyptian Initiative for Personal Rights, menyebut praktek sunat perempuan dilakukan keluarga untuk 'mengontrol nafsu seks dan mensucikan organ kelamin wanita'. Padahal WHO sendiri menyebut sunat perempuan tidak memiliki manfaat dan bahkan berisiko menimbulkan trauma.

"Sekadar hukuman pidana saja tidak akan cukup. Pemerintah harus menghilangkan mitos-mitos dan menghapus akar pemikiran tentang sunat perempuan yang disebut-sebut dapat mengontrol nafsu seksual wanita," tuturnya.

Baca juga: Kapan Sih Usia Ideal Anak Disunat?

(mrs/vit)