Selasa, 07 Jun 2016 20:05 WIB

Laparoscopic Sleeve Gastrectomy, Operasi untuk Alternatif Atasi Obesitas

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
ilustrasi operasi bariatrik (Foto: Radian Nyi Sukmasari)
Jakarta - Ketika obesitas tak dapat teratasi dengan diet dan olahraga, maka operasi bariatrik bisa saja dilakukan. Pada dasarnya, bariatrik merupakan usaha menurunkan berat badan apapun caranya, salah satunya dengan pembedahan.

Seperti penuturan dr Errawan R. Wiradisuria, SpB(K)BD, jika sudah olahraga, diet, dan melakukan berbagai cara tapi bobot tidak turun, pembedahan bisa jadi alternatif. Salah satu metode operasi bariatrik yang sering dilakukan adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG).

Prosedur ini, lanjut dr Errawan paling banyak dipakai karena relatif mudah, nyaman untuk pasien, minim risiko, dan efektivitasnya sama dengan Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS) dan Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB).

"Pada LSG, lambung kita potong seperti bentuk tangan panjang dengan teknik laparoskopi. Kemudian, sisa lambung yang sudah dipotong kita jepret dengan staples yang terbuat dari titanium. Sisa potongan lambung kurang lebih 75 persen dibuang," kata dr Errawan dalam Media Gathering di Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta Barat, Selasa (7/6/2016).

Steples titanium yang digunakan dikatakan dr Errawan tidak berkarat dan tidak akan menimbulkan bunyi saat pasien melewati scanner. Pasca prosedur, masih ada unsur saraf yang mempertahankan pengaturan lambung dan rasa kenyang. Jumlah sel parietal yang bisa memicu sakit mag juga berkurang.

Baca juga: Pakar Sebut Operasi Ini Bisa Bantu Kontrol Gula Darah Pasien Diabetes Tipe 2

Prosedur LSG berlangsung kurang lebih 3 jam di mana di awal prosedur dibuat 4 sampai 5 lubang untuk memasukkan alat. Salah satu lubang akan dibuat panjangnya mencapai 5 cm dan luka sayat itu nantinya direkatkan dengan human skin glue. Selama 2-3 hari pasca air putih, pasien hanya boleh minum air putih.

Selama 4 minggu pasca tindakan pasien boleh mengonsumsi susu atau makanan yang diblender. Setelahnya, bisa diberi makanan semi padat seperti cereal dan cracker dan 3 bulan setelah operasi bisa konsumsi makanan padat. Aktivitas pasca operasi pun mesti ditingkatkan bertahap intensitasnya.

"Karena lambung kan bentuknya tabung. Pasca dipotong, makanan lebih cepat turun ke usus. Lalu ada sel yang merangsang tempat lain sehingga sel pankreas yang menghasilkan insulin, meningkat. Kalau insulin naik, produksi gula darah turun. Pada orang diabet, kadar gula darahnya bisa turun," terang dr Errawan.

"Dengan dibuang 75 persen lambungnya, sel oksintik di lambung turun. Sel oksintik ini menghasilkan hormon ghrelin perangsang nafsu makan. Saat ghrelin turun, nafsu makan turun, bisa kurus nantinya. Tapi, di balik itu pada kasus ekstrem ada yang kulitnya bergelambir bahkan pada lelaki ada yang puting payudaranya sampai turun ke tulang kemaluan. Untuk mengatasinya, perlu ke bedah plastik," pungkasnya.

Baca juga: Ayah 1 Anak Ini Sebut Gula Darahnya Lebih Stabil Usai Jalani Bypass Lambung

(rdn/vit)