Selasa, 09 Agu 2016 15:59 WIB

Angka Kelahiran Terus Tinggi, Tak Semua Provinsi Dapatkan Bonus Demografi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Ilustrasi demografi (Foto: Thinkstock)
Solo - Dengan jumlah penduduk yang telah mencapai 257,5 juta, Indonesia berpotensi besar untuk merasakan bonus demografi. Ini merupakan kondisi di mana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedangkan proporsi usia muda semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

Meski demikian, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dr Surya Chandra Surapaty, mengatakan baru beberapa provinsi saja yang diproyeksi merasakan bonus ini. Provinsi-provinsi tersebut antara lain Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara.

"Indikatornya mereka yang usianya 16-64 tahun lebih dari 60 persen," jelasnya usai berbicara dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PIT POGI) 2016 di Hotel Alila Solo, Selasa (9/8/2016).

Surya menambahkan, berdasarkan prediksi, Indonesia akan merasakan bonus demografi dalam rentang waktu 2012-2045 dengan jendela peluang antara tahun 2028-2035. Surya berharap kesempatan yang hanya terjadi sekali dalam provinsi populasi ini dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh Indonesia.

Baca juga: BKKBN Nilai Masih Ada yang Anggap Kependudukan Belum Jadi Isu Penting

Meski begitu, Surya merasa masih mempunyai pekerjaan rumah (PR) ketika dihadapkan pada kondisi yang terjadi di sejumlah provinsi lain.

"Ada beberapa provinsi yang kalau (angka kelahirannya, red) tidak diturunkan saat ini juga, dikhawatirkan bonus demografinya tidak akan pernah tercapai," tegasnya.

Ia memberi contoh Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Maluku. Salah satu penyebabnya adalah tingkat pemakaian kontrasepsinya yang masih sangat rendah, termasuk tingginya angka kehamilan di usia muda.

"Akibatnya risiko bayi lahir mati dan ibu meninggal saat persalinan juga di atas rata-rata," paparnya lagi.

Di sisi lain, Surya mengakui masyarakat di wilayah timur Indonesia umumnya tidak mendapatkan akses pada fasilitas kesehatan yang memadai, termasuk kurangnya distribusi dokter ahli kebidanan dan kandungan di sana.

"Tapi masyarakatnya sendiri memang kurang memperhatikan aspek kesehatan," pungkasnya.

Baca juga: Menkes Ingatkan Perokok Anak Bisa Ancam Bonus Demografi Indonesia (lll/vit)