Senin, 15 Agu 2016 10:06 WIB

Mengintip Koleksi Parasit dan Vektor Penyakit di Museum Queensland

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Penampakan lintah penyedot darah yang digunakan untuk keperluan medis zaman dahulu (Foto: AN Uyung/detikHealth)
Jakarta - Jangan buru-buru membayangkan suasana angker saat mendengar Queensland Museum. Walaupun menyimpan banyak koleksi bersejarah, beberapa bagian di tempat ini lebih mirip seperti laboratorium.

Museum yang berlokasi di South Brisbane, Australia ini menyimpan ratusan ribu koleksi parasit penyebab penyakit pada hewan maupun manusia. Sebagian di antaranya dipamerkan untuk pengunjung, namun banyak juga yang disimpan untuk keperluan penelitian ilmiah.

"Kami banyak bekerja sama dengan institusi riset," kata Prof Suzanne Miller, Direktur dan Cief Executive Officer Queensland Museum saat menemui media di Brisbane, Minggu (14/8/2016).

Berbagai jenis parasit mulai dari kutu hingga cacing disimpan di satu ruangan khusus yang hanya bisa diakses oleh petugas. Bau menyengat tercium saat masuk ke ruangan ini, karena koleksi-koleksi tersebut diawetkan dengan larutan alkohol.

Queensland Museum (Foto: AN Uyung P/detikHealth)

Baca juga: Pernah Ketemu Nyamuk 'Vegetarian'? Museum Nyamuk Pangandaran Punya Koleksinya

Selain koleksi berbagai jenis parasit, koleksi hewan yang menjadi vektor atau penular penyakit juga bisa dijumpai di museum ini. Nyamuk Aedes albopictus, vektor Zika serta Dengue yang juga dikenal sebagai Asian Tiger Mosquitos adalah salah satu yang bisa dilihat di ruang pameran.

Tidak semua koleksi hewan di museum ini berhubungan dengan penyakit, sebagian juga berguna bagi kesehatan. Misalnya lintah atau Hirudo medicinalis yang sejak dahulu hingga sekarang banyak dipakai untuk berbagai macam terapi.

Di antara binatang-binatang yang berguna bagi kesehatan, sebagian adalah binatang berbisa. Salah satunya Tarantula Australia atau Phlogius crassipes yang belakangan banyak diteliti karena mengadung senyawa tertentu untuk membunuh sel-sel kanker payudara secara spesifik.

"Kami punya laboratorium DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) untuk laba-laba," jelas Prof Miller.

Baca juga: Hii.. Di Surabaya, Menkes Tinjau Koleksi Jelangkung dan Alat Santet! (up/vit)