Senin, 15 Agu 2016 13:57 WIB

Ini Kata Menkes Agar Benar-Benar Dapat Manfaat dari Bonus Demografi

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Ilustrasi penduduk (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Tahun 2030, Indonesia diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi. Nah, diharapkan usia produktif yang ada memang benar-benar produktif.

"Permasalahan kita masih banyak, seperti pada tahun 2030 kita akan mencapai bonus demografi, artinya jumlah manusia yang produktif sama jumlahnya dengan manusia yang sudah tidak produktif seperti manula dan anak kecil," terang Dr dr Nila Farid Moelok, Sp.M(K).

Hal itu disampaikan di sela-sela penganugerahan tenaga kesehatan teladan di puskesmas tingkat nasional tahun 2016 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (15/8/2016).

Nah, terkait dengan jumlah manusia produktif, Nila mengingatkan apakah benar jumlah tersebut benar-benar manusia yang produktif. Ini dikarenakan beberapa orang mengalami penyakit serius dengan angka yang cukup tinggi.

Baca juga: Angka Kelahiran Terus Tinggi, Tak Semua Provinsi Dapatkan Bonus Demografi

Jika penyakit, baik menular atau tidak menular menjangkiti usia produktif, maka bonus demografi yang diharapkan tidak akan tercapai. Untuk itu Nila mengingatkan bonus demografi harus diperhatikan dengan baik. Jika tidak mendapat perhatian dan penanganan, bonus demografi justru bisa menjadi 'disaster' bagi negara.

Dalam rangka menjaga kesehatan masyarakat demi mendapatkan manusia-manusia yang benar-benar produktif di bonus demografi 2030, puskesmas yang merupakan ujung tombak kesehatan suatu negara harus mendapatkan perhatian. Tak cuma itu, pendekatan terhadap keluarga juga merupakan kunci penting.

"Tugas kita harus mengetahui di luar puskesmas ada masyarakat yang memerlukan akses air bersih dan prasarana menuju puskesmas," imbuh Menkes.

Nila juga berharap tenaga kesehatan bukan hanya mengobati namun membentuk masyarakat yang mengerti kesehatan dan berkeinginan sehat. Untuk itu para tenaga kesehatan diimbau memerhatikan kondisi tempat tinggal pasien. Apalagi, tambah Nila, dua per tiga masyarakat tidak mengetahui bahwa mereka mengidap hipertensi ataupun kencing manis.

Baca juga: Menkes Ingatkan Perokok Anak Bisa Ancam Bonus Demografi Indonesia (vit/vit)