Selasa, 30 Agu 2016 12:01 WIB

Pentingnya Pemantauan Gula Darah Mandiri untuk Kelola Diabetes

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Jika dikelola dengan baik, kadar gula darah pada pasien diabetes bisa stabil. Nah, pengelolaan diabetes ini salah satunya bisa dilakukan melalui pemantauan gula darah mandiri (PGDM).

Diungkapkan Ketua Divi Metabolik Endokrinologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, Dr dr Em Yunir SpPD-KEMD, pemantauan gula darah mandiri pada prinsipnya bisa dilakukan sendiri oleh pasien. Sehingga, pasien tidak harus memeriksakan gula darahnya ke laboratorium, di mana untuk mendapat hasilnya butuh waktu 2-3 jam

"Nah, ada alternatif untuk melakukan pemantauan mandiri dengan menggunakan alat periksa gula darah atau glukometer yang bisa dibeli di pasaran. Jika dilakukan terstruktur, bisa didapat benefit untuk mengelola diabetes," kata dr Yunir dalam Media Workshop Sosialisasi Pandian PGDM untuk Mencapai Target Pengendaloan Diabetes di Indonesia di JW Marriott Hotel, Jalan Dr Ide Anak Agung Gde Agung, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (30/8/2016).

Ditekankan dr Yunir, PGDM penting karena ke depannya, jumlah pasien diabetes di Indonesia makin tinggi. Data tahun 2013 saja menyebutkan jumlah pasien diabetes di Indonesia mencapai 9,1 juta dan Indonesia menjadi negara nomor 5 dengan jumlah pasien diabetes terbanyak berdasarkan data International Diabetes Federation.

Pada diabetes, dr Yunir mengatakan masalah tidak hanya pada pasien tapi juga dampak lain yang bisa terjadi. Saat ini, lanjut dr Yunir, tiap 7 detik 1 orang di dunia meninggal karena diabetes. Lalu, komplikasi kronis dialami 7 dari 10 pasien. Data DiabCare Indonesia tahun 2012 menunjukkan hanya 30 persen diebetesi yang memiliki kadar HbA1c (kadar gula darah yang tercatat selama 3 bulan) di bawah nilai normal yakni 7.

Baca juga: Kenali, Bedanya Diabetes pada Orang Gemuk dan Kurus

"Artinya 30 persen pasien gulanya tidak terkontrol dan punya risiko komplikasi. Untuk itu, saat ini tengah difinalisasi oleh Perkeni (perkumpulan endokrinologi Indonesia) membuat panduan untuk dokter umum, spesialis, endokrinologi gimana panduan mengelola diabetes. Salah satunya gimana memilih obat sesuai Hba1c," tambah dr Yunir.

Nantinya, para tenaga kesehatan juga akan mengedukasi pasien untuk melakukan PGDM dan hasil pemeriksaan gula darahnya akan dicatat di buku khusus. Kapan pasien perlu memeriksa gula darahnya juga disesuaikan dengan kondisi pasien, kadar Hba1c, dan obat yang dikonsumsi.

PGDM, kata dr Yunir, bermanfaat untuk mengidentifikasi hipoglikemi, melihat hubungan penggunaan insulin atau obat oral dengan makanan dan aktivitas lain. Kemudian, melihat efek makanan, snack tertentu, aktivitas fisik, dan obat dengan kadar gula darah.

"Data yang didapat nanti dilaporkan ke dokter. Sehingga kita bisa identifikasi apa ada hipoglikemi, gula darah yang tinggi saat puasa dan setelah makan, menentukan berapa kali sering hipo dan kapan sering hipo," pungkas dr Yunir.

Baca juga: Kurangi Waktu Duduk 2,5 Jam per Hari Bantu Turunkan Gula Darah

(rdn/vit)