Rabu, 21 Sep 2016 07:40 WIB

Studi Sebut Kabut Asap Tahun 2015 Sebabkan 100 Ribu Lebih Kematian Dini

Firdaus Anwar - detikHealth
Ilustrasi dampak asap di Singapura (Foto: REUTERS/Edgar Su) Ilustrasi dampak asap di Singapura (Foto: REUTERS/Edgar Su)
Jakarta - Pada tahun 2015 lalu Indonesia dilanda kabut asap terburuk sepanjang sejarah sejak tahun 1997. Kabut yang disebabkan oleh terbakarnya hutan dan wilayah gambut menutupi hampir seluruh wilayah Asia Tenggara selama berbulan-bulan.

Kini setelah hampir satu tahun bencana usai, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di Harvard dan Columbia University memprediksi dampak kabut asap pada masyarakat. Dengan menggunakan model komputer dampak-dampak kesehatan, peneliti menentukan kemungkinan statiskal bahwa bisa ada 26.300 hingga 174.300 kasus kematian dini dengan angka rata-ratanya 100.300.

Angka tersebut diperoleh hanya dengan melihat orang dewasa saja meski ada banyak laporan bahwa bayi yang terutama rentan terpapar asap. Ini artinya jumlah kasus kematian dini bisa lebih banyak lagi.

Baca juga: Terpapar Kabut Asap, Warga Pekanbaru Terancam Tak Bisa Napas!

"Partikel asap ini menembus ke dalam ruangan dan rumah-rumah di Indonesia memiliki ventilasi yang sangat baik. Oleh karena itu saya pikir tidak ada sikap lain yang bisa diambil oleh orang-orang di sana untuk menghindar polusi secara efektif," kata ahli epidemiolog Joel Schwartz selaku salah satu peneliti seperti dikutip dari siaran pers.

Dipublikasi di jurnal Environmental Research Letters, peneliti mengatakan lebih dari 90 persen kematian dini dialami oleh orang di Indonesia. Sekitar 43 juta orang terpapar kabut asap dan setengah jutanya dikabarkan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Peneliti mengatakan hasil studi diharap dapat menjadi panggilan agar semua pihak menyadari masalah kabut asap ini.

Mengomentari studi ini, Indonesia menyebut angka yang dikemukakan 'bombastis', Direktur Jenderal Pengawasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan, Kemenkes, M Subuh, tidak yakin dengan angkanya. "Saya tidak yakin angkanya sebesar itu," kata Subuh, dikutip dari ABC Australia.

Baca juga: Kurangi Dampak Kabut Asap, Masyarakat Diimbau Atur Ventilasi Rumah

(fds/vit)
News Feed