Kamis, 29 Sep 2016 13:32 WIB

Cinemathoscope

Kisah Sedih Gadis yang Kehilangan Kendali Otot dalam Film 1 Litre of Tears

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Asianwiki.com
Jakarta - Penyakit memang datang tanpa diduga. Namun bagi remaja maupun anak-anak, penyakit seringkali menjadi 'penjara' bagi mereka karena mereka seharusnya tumbuh dan bergerak lincah.

Seperti yang dirasakan Aya Kito dalam film 1 Litre of Tears. Film ini mengulas bagaimana seorang gadis menghadapi kondisi yang tiba-tiba menyebabkan dirinya tidak leluasa bergerak. Seperti judulnya, film ini banyak menghadirkan adegan menguras air mata.

Fil ini mengisahkan Aya Kito yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aya adalah gadis yang aktif dan periang. Hingga pada suatu hari sang ibu melihat Aya pulang ke rumah dalam keadaan terluka.

Saat itu Aya baru saja berangkat ke sekolah bersama sang adik perempuan. Namun mungkin belum sampai sekolah, Aya mengaku terjatuh di tengah jalan. Luka lecet itu berada di dagu Aya. Oleh sang ibu, Aya dibawa ke dokter.

Sesampainya di rumah sakit, dokter bertanya bagaimana Aya bisa terjatuh dengan luka lecet di dagu. Bukan apa-apa, dokter berpikir biasanya ketika seseorang terjatuh, luka lecet yang ditemukan ada di lutut atau kaki. Apalagi seharusnya ada refleks di mana kedua tangan berupaya menahan tubuh saat terjatuh.

Melihat kondisi Aya, dokter pun curiga Aya tak memiliki refleks tersebut. Dokter lantas menyarankan agar sang ibu membawa Aya untuk menjalani pemeriksaan intensif. Karena khawatir, sang ibu menduga Aya sedang stres karena sebentar lagi ia akan menghadapi ujian akhir. Meski begitu Aya tak mengaku demikian. Ia lebih memilih menuruti keinginan ibunya untuk melakukan check-up.

Hal menarik ditemukan saat check-up berlangsung. Oleh dokter, Aya dites untuk melakukan beberapa hal. Pertama, ia diminta menyentuh hidungnya dalam keadaan mata tertutup dan Aya gagal melakukannya. Hasil serupa juga terlihat pada tes kedua. Aya diminta berdiri dengan satu kaki sembari kedua tangannya dilebarkan untuk menjaga keseimbangan, tetapi tubuh Aya justru doyong. Sesi berikutnya, Aya menjalani CT scan pada otaknya. Bagaimana hasilnya?



Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4