Jumat, 30 Sep 2016 17:04 WIB

Apotek Jual Obat Penenang Secara Ilegal di Bandung Terancam Dicabut Izinnya

Baban Gandapurnama - detikHealth
Foto: Thinkstock
Bandung - Memang tak dipungkiri keberadaan obat penenang jenis benzodiazepine kerap disalahgunakan masyarakat. Sudah sering kejadian obat penenang digunakan aksi kriminal untuk melumpuhkan korbannya. Kerap juga orang membelinya untuk mabuk. Apotek diharapkan berperan mencegah pembeli menyalahgunakan obat jenis psikotropika tersebut.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki peran memonitor peredaran obat penenang di pasaran. Tentu saja apotek-apotek tidak luput dari pengawasan lembaga tersebut.

"Semua obat-obat psikotropika, termasuk obat penenang, harus menggunakan resep dokter," ucap Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung Abdul Rahim di sela-sela seminar bertema 'Benzodiazepine In Daily Practices, Pro and Contra.....?' di Hotel Aston, Jalan Djunjunan (Pasteur), Kota Bandung, Jumat (30/9/2016).

Selama ini, sambung Abdul, pihaknya memantau lalu lintas peredaran aneka obat mulai tingkat produsen, distributor hingga apotek.

"Kami mengawasi ketat. Berapa produksinya, lalu diedarkan dan disalurkan ke mana saja. Jadi kami mengawasi soal legalnya," ujar Abdul.

Jika obat penenang masuk apotek, menurut Abdul, pihaknya akan mendata jumlah obat siap jual. Cara seperti itu guna memudahkan pengawasan.

Bila ada apotek nakal menjual obat penenang secara ilegal, BBPOM Bandung berkoordinasi dengan intansi terkait untuk melakukan tindakan tegas. Sebab yang merestui izin usaha apotek ialah Dinas Kesehatan (Dinkes).

Sejauh ini di Kota Bandung belum terdeteksi apotek-apotek nakal yang menjual bebas obat penenang tanpa prosedur. "Ketika itu tidak benar (penjualan ilegal atau tanpa resep dokter) tentu kita memberikan tindakan. Kalau ada apotek seperti itu, kita surati Dinkes agar dilakukan pembinaan. Bila perlu kita rekomendasikan untuk tutup apoteknya," tutur Abdul.

Baca juga: Obat Penenang Banyak Disalahgunakan dengan Resep Curian

Meski begitu, Abdul menyebut tidak kemungkinan peredaran benzodiazepine hadir di pasar gelap sehingga memudahkan orang membelinya untuk disalahgunakan. Sebab, sambung dia, bisa saja ada pabrik ilegal sengaja memalsukan obat penenang.

"Kalau ada yang ilegal seperti itu, kami bekerja sama dengan polisi untuk bertindak," kata Abdul.

Bisnis gelap muncul untuk mengincar penikmat obat penenang yang menggunakannya bukan karena alasan medis. Peminat obat penenang menjadi lahan basah nan menggiurkan bagi para penyedianya.

"Motifnya ekonomi. Sesuatu barang yang dijual kepada orang yang ketagihan kan menguntungkan. Tapi kan dampaknya (penyalahgunaan benzodiazepine) merusak anak bangsa," ujar Abdul.

Baca juga: Menkes Nila: Soal Narkoba, Orang Indonesia Terlalu 'Kreatif' (bbn/up)