Tiap Tahun, 1.000 Lebih Aneurisma Otak di Jabodetabek Tak Terdeteksi

ADVERTISEMENT

Tiap Tahun, 1.000 Lebih Aneurisma Otak di Jabodetabek Tak Terdeteksi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Sabtu, 15 Okt 2016 12:37 WIB
Prof Eka dalam dalam kuliah umum The Amazing Human Brain and The Potential Catasthrope (Foto: AN Uyung Pramudiarja)
Jakarta - Kasus pembengkakan pembuluh darah atau aneurisma di otak kerap tidak terdeteksi. Tiap tahun, diperkirakan ada lebih dari 1.000 kasus di Jakarta dan sekitarnya yang tidak terdeteksi.

"Tahu-tahu meninggal, dikubur dan tidak pernah terdiagnosis," kata Prof dr Eka J Wahjoepramono, PhD, Kepala Pusat Neurosains RS Siloam dalam kuliah umum The Amazing Human Brain and The Potential Catasthrope di Karawaci, Tangerang, Sabtu (15/10/2016).

Perkiraan tersebut didasarkan pada statistik yang mengatakan bahwa pada setiap 100.000 penduduk terdapat 10-20 kasus aneurisma otak. Dengan perhitungan tersebut, maka diperkirakan tiap tahun ada sekitar 1.000 - 2.000 kasus di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

"Sementara di Siloam, data kami hanya 100 kasus pertahun," tambah Prof Eka.

Baca juga: Sering Sakit Kepala, Apakah Pertanda Stroke?

Rendahnya kasus aneurisma otak yang ditangani menunjukkan kurangnya edukasi tentang bahaya aneurisma otak. Pembengkakan pembuluh darah di otak bisa memicu stroke yang mematikan jika mengalami pecah. Kematian bisa dicegah melalui deteksi dini, yang kemudian ditindaklanjuti dengan operasi.

Deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Prof Eka menganjurkan orang-orang di atas usia 40 tahun, atau memiliki riwayat stroke di keluarganya, untuk melakukan brain check-up yakni dengan MRI.

"Aneurisma ini khasnya sakit kepala yang luar biasa," kata Prof Eka.

Baca juga: Sakit Kepala yang Butuh Operasi Paling Banyak Karena Tumor (up/lll)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT