Rabu, 02 Nov 2016 18:37 WIB

Sempat Henti Napas Akibat Kanker Paru, Perlahan Kondisi Balita Ini Membaik

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto ilustrasi: thinkstock
Jakarta - Dylan Askin dikabarkan mengalami henti napas saat berada di tempat penitipan anak, Little Nippers di Derby, Inggris. Beruntung salah satu sukarelawan tempat itu, Caroline Blake bergerak cepat.

Dengan sekuat tenaga, Caroline melakukan tindakan CPR atau memberi napas buatan kepada Dylan, sembari menunggu datangnya ambulans.

"Ia tampak terengah-engah, dan saya mulai melakukan CPR sebanyak empat putaran," kisahnya.

Caroline menambahkan, Dylan sebenarnya tak sendiri karena ibunya juga ada di tempat yang sama. Akan tetapi sang ibu sedang hamil tua sehingga tak bisa berbuat banyak ketika melihat keadaan Dylan.

Upaya ini berhasil. Dylan pun bisa dibawa ke rumah sakit. Namun begitu sampai di rumah sakit, tim dokter mengabarkan bahwa kondisi Dylan sangat buruk sebab kedua paru-parunya kolaps. "Mereka juga mengira otak Dylan mengalami kerusakan karena saya langsung melakukan CPR," tambahnya.

Bocah berusia tiga tahun itu kemudian didiagnosis mengidap kanker paru. Sayangnya baru sebulan menjalani kemoterapi, Dylan terkena infeksi dan kejang sehingga napasnya berhenti lagi. Saat inilah keluarga sudah diminta melepaskan alat pendukung kehidupan Dylan.

Baca juga: Rokok Punya Bahan Pemicu Kanker, Masih Tega 'Ngebul' Dekat Anak?

Ibu Dylan, Kerry Askin mengisahkan, pada awalnya paru-paru Dylan hanya kolaps sebelah di Hari Natal tahun lalu. Gejalanya hampir sama, sesak napas dan begitu dilarikan ke rumah sakit, dokter menduga si kecil terserang pneumonia.

Kondisinya tidak membaik, lalu dilakukan pemindaian dengan sinar X dan terlihat bahwa paru-paru Dylan tak hanya kolaps, tetapi juga berpotensi tertutup kista berisi udara. "Kami dirujuk ke Nottingham QMC untuk mengeluarkan udara yang terperangkap itu," ungkap Kerry.

Selepas itu, anak kedua dari tiga bersaudara ini sempat pulang tetapi paru-paru kanannya kolaps lagi empat hari berikutnya. Dylan pun dirawat hampir sebulan di rumah sakit, tetapi kondisinya malah memburuk.

Itulah saat di mana Dylan mengalami kolaps dobel atau kedua paru-parunya mengalami kerusakan, saat berada di tempat penitipan anak. "Saya hanya bisa menghubungi 999 berulang kali tetapi ia keburu berhenti bernapas, dan untunglah ada Caroline," lanjutnya.

Lebih jelasnya, Dylan terdiagnosis mengidap Pulmonary Langerhans Cell Histiocystosis yang lebih dikenal sebagai kanker paru. Pulmonary LCH sendiri tergolong langka karena diperkirakan hanya menyerang 1 dari 200.000 anak.

Dan tepat di hari Kasih Sayang, alat penunjang kehidupan Dylan sempat akan dicopot.

"Begitu relaksan ototnya dimatikan, kami akan mulai melepaskan selang-selang di tubuhnya. Tetapi ternyata ia butuh lebih banyak obat bius, dan saat itulah kami tahu kondisinya membaik walaupun perlahan," kenang Kerry.

Dylan akhirnya bisa dipulangkan ke rumah pada April lalu. Kerry dan suaminya kemudian menggalang dana sekaligus meningkatkan kesadaran akan Pulmonary LCH yang tidak banyak diketahui orang lewat situs Just Giving.

Baca juga: Anak Terpapar Kabut Asap, Bisakah Menyebabkan Kanker Paru?

(lll/vit)