Kamis, 03 Nov 2016 13:05 WIB

Cinemathoscope

A Beautiful Mind: Si Genius yang Hidup di antara Halusinasi dan Delusi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Halaman 2 dari 4
1 Menemukan Ekuilibrium Fenomenal dan Muncul Gejala Awal
Ilustrasi skizofrenia (Foto: Rachman Haryanto)

Keesokan harinya, John masih asyik mengutak-atik teorinya di bar tempat anak-anak Princeton bercengkrama. Ia duduk di antara Martin, Sol dan Bender. Tak berapa lama, datanglah beberapa mahasiswi, dengan satu mahasiswi blonde yang menjadi incaran mereka berempat.

Untuk mendapatkan si blonde, Martin mengutip ungkapan ahli ekonomi Adam Smith bahwa tiap orang harus berjuang untuk dirinya sendiri (every man for himself). Namun setelah berpikir sebentar, John langsung menyahut dan mengatakan teori Adam perlu direvisi.

Menurut John, bila mereka berempat berebut wanita yang sama, maka tak ada satu pun dari mereka yang mendapatkannya. Untuk itu strategi perlu diubah, jadi pendekatan terbaik adalah dengan mendekati teman-temannya, sehingga masing-masing mendapatkan satu wanita, tak harus si blonde.

Keempatnya terdiam mendengar penjelasan John, sedangkan John langsung bergegas kembali ke kamar untuk membuat algoritma baru. Dengan teori itu, John pun diperkenankan masuk Wheeler Labs di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan bekerja sebagai peneliti di sana, bersama dua rekannya, Sol dan Bender. Selain bekerja di lab, John juga diminta mengajar. Ini tentu bukan hal yang menarik bagi John yang notabene tak pernah masuk ke kelas semasa kuliah.

Tak berapa lama, John didekati seorang agen rahasia dari militer bernama William Pacher. Ia bahkan diajak ke gudang milik laboratorium yang selama ini dikiranya hanya gudang biasa. Ternyata di dalam gudang itu terdapat lab rahasia untuk memecahkan kode dari musuh. Kode-kode itu tersebar di koran dan majalah.

John juga dipasangi semacam implan di bawah kulit lengannya sebagai kunci untuk bisa mengakses drop spot atau titik di mana ia harus menyerahkan laporan terkait kode yang berhasil ia pecahkan. Jadilah hari-hari John diwarnai dengan aktivitas menganalisis koran dan majalah, lalu mengklipingnya kemudian mengirimkan laporan berisi kode yang berhasil terpecahkan ke titik yang telah ditentukan.

Bahkan di suatu malam, ketika John mengantarkan laporannya, William menghampirinya dan memintanya masuk ke dalam mobil karena mereka sedang diikuti. Sempat terjadi baku tembak. Untunglah William berhasil melumpuhkan mereka. Namun John menjadi trauma, bahkan dengan suara-suara keras seperti pintu mobil yang dibanting pelan sekalipun.

Setidaknya di tengah hiruk-pikuk kehidupan John, pria ini bertemu dengan sang istri, Alicia yang awalnya adalah mahasiswinya di MIT. Ia bahkan menikahi perempuan cantik ini tak lama setelah mereka dekat. Setelah menikah, John menjadi paranoid, bahkan ketika lampu rumahnya menyala.

Puncaknya, saat ia memberikan kuliah umum di Harvard University, John tidak mampu memberikan kuliah secara komprehensif. Ia seperti linglung dan penjelasannya berlompatan. Ditambah lagi di tengah kuliah, ia didatangi dua orang yang dikiranya adalah mata-mata Rusia, karena memang selama ini John beranggapan bahwa orang-orang baru yang mendekatinya adalah mata-mata Rusia.

Ada apa sebenarnya dengan John?

(lll/vit)