Selasa, 29 Nov 2016 12:35 WIB

Meski Paru-parunya 'Terluka', Pria ini Sanggup Selesaikan Maraton

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Evans Wilson saat mengikuti maraton (Foto: Komo News)
Jakarta - Namanya Evans Wilson. Usianya pun sudah tak muda lagi, 63 tahun. Namun baru-baru ini ia berhasil menyelesaikan Seattle Marathon dalam kurun waktu 10 jam 55 menit, lengkap dengan membawa tabung oksigen yang selama ini menjadi alat bantu pernapasannya.

Mengapa si kakek repot-repot ikut maraton? Rupanya pria ini punya misi khusus untuk meningkatkan kesadaran publik tentang kondisinya, 'pulmonary fibrosis'.

Ketika ditanya bagaimana kondisinya setelah ikut marathon, Wilson mengaku hal itu tak terlalu berat. "Tetapi mungkin kondisi saya akan jauh lebih baik bila saya tidak mengidap penyakit jantung dan paru-paru sekaligus," katanya.

Mantan pelari ini mengaku didiagnosis dengan pulmonary fibrosis saat berusia 57 tahun. Gejalanya pertama kali muncul saat ia mengaku sesak napas setelah menaiki sebuah bukit tak jauh dari rumahnya.

"Saya memang sampai di atas tetapi saya nyaris tak bisa bernapas," kisahnya kepada ABC News.

Namun butuh beberapa kali insiden serupa sebelum akhirnya dokter menemukan ada masalah dengan paru-paru Wilson. Pertama-tama adalah pulmonary hypertension di mana terjadi tekanan darah tinggi dalam paru-parunya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa jantung Wilson bekerja secara berlebihan dan kemungkinan telah mengalami kerusakan.

Dari situ dokter juga menemukan bahwa terjadi perlukaan pada paru-paru pria ini, gejala utama dari pulmonary fibrosis.

Mayo Clinic menyebut pulmonary fibrosis disebabkan oleh banyak hal, bisa genetik (yang biasa dikenal dengan cystic fibrosis); paparan partikel tertentu dan juga penyakit autoimun. Kerusakan paru akibat penyakit ini juga tidak dapat diperbaiki atau dipulihkan.

Wilson sendiri mengaku butuh waktu dua tahun bagi dokternya untuk memastikan pria ini mengidap penyakit mematikan ini.

Baca juga: Pasutri 'The Fault in Our Stars' di Dunia Nyata Meninggal, Hanya Selang 5 Hari

Meski demikian Wilson membuktikan ia bisa bertahan walaupun harus bergantung pada tabung oksigen. Bahkan ia bisa ambil bagian dalam sebuah ajang maraton yang menempuh jarak hingga 42 km dan menyelesaikannya dalam kurun singkat.

"Sebagian besar pasien pulmonary fibrosis hanya bertahan tiga tahun, tapi saya sudah melampaui tahun kelima, padahal penyakit ini bersifat progresif. Saya termasuk beruntung," tuturnya.

Keikutsertaan Wilson dalam Seattle Marathon adalah untuk menggalang dana bagi Pulmonary Fibrosis Foundation agar lebih banyak pengobatan yang dapat dikembangkan untuk penyakit ini dan membantu mengurangi dampaknya. Sejauh ini, satu-satunya pengobatan yang bisa diberikan untuk memperpanjang harapan hidup pasien pulmonary fibrosis hanyalah dengan transplantasi paru.

"Dokter sebenarnya tidak sepakat jika saya mengikuti perlombaan seperti ini karena jantung saya, tetapi saya memutuskan tetap melakukannya," imbuhnya.

Karena kondisinya, panitia maraton memperbolehkan Wilson berangkat 1 jam 15 menit lebih dahulu. Ia ditemani oleh sang istri dan seorang sukarelawan yang membantu Wilson membawa tabung oksigen agar ia dapat menyelesaikan ajang tersebut.

"Saya sempat memimpin di 10 km pertama, tetapi begitu memasuki jarak 19 km, saya mulai kesulitan," tuturnya.

Wilson juga terkejut sekaligus terharu karena pelari lain justru memberinya dukungan, yaitu memberinya tepuk tangan ketika melewati dirinya.

Baca juga: Berlebihan Menghirup Olahan Biji Kopi Bisa Bikin Paru-paru 'Kram' (lll/vit)