Selasa, 29 Nov 2016 16:35 WIB

Minuman Berenergi Sebabkan Pendarahan Otak Pada Pria Ini

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Minuman berenergi tidak baik dikonsumsi secara berlebihan dan bukan untuk semua orang. Alasannya karena stimulan yang terkandung di dalam minuman bisa cukup tinggi sehingga bisa memicu beragam efek samping.

Contohnya seperti yang dikabarkan awal November lalu di BMJ Case bahwa ada pria berumur 50 tahun yang terkena hepatitis karena minuman berenergi. Dirinya mengonsumsi empat hingga lima botol minuman berenergi dalam satu hari sehingga membuat hatinya tak mampu mengimbangi membersihkan darah.

Baca juga: Terlalu Banyak Konsumsi Minuman Berenergi, Pria Ini Kena Hepatitis Akut

Nah terkait hal tersebut belakangan muncul lagi laporan bahwa ada pria yang alami masalah lain karena minuman berenergi. Dipublikasi di The American Journal of Emergency Medicine, satu pasien pria berusia 57 tahun diketahui terkena pendarahan otak.

"Kami melaporkan kasus pertama sebuah pendarahan intracranial berhubungan dengan konsumsi minuman berenergi. Pasien kami mengembangkan gejala perubahan sensorik di lengan kanan dan kaki, dengan ataksia, hanya dalam hitungan menit setelah mengonsumsi beberapa botol minuman energi terkenal," tulis para dokter seperti dikutip dari American Journal of Emergency Medicine, Selasa (29/11/2016).

Salah satu dokter yang terlibat dr Anand Venkatraman mengatakan sang pasien sendiri memiliki sejarah hipertensi. Ditambah dengan kandungan minuman yang tinggi kafein dan bahan stimulan lainnya, maka kondisi pasien tersebut dibuat semakin parah.

"Minuman yang ia konsumsi secara khusus mengandung beberapa suplemen yang kita tak ketahui potensi interaksinya satu sama lain atau dengan kafein. Ada yang strukturnya mirip seperti amfetamin dan yang lainnya diketahui bisa merangsang kerja sistem saraf otonom," ungkap dr Anand.

Ketika sang pasien mengonsumsi minuman berenergi, diduga kuat tekanan darahnya yang sudah tinggi dibuat menjadi lebih tinggi sehingga pada akhirnya pembuluh darah tak kuat menahan tekanan dan pecah.

Sang pasien setelah diterapi mengaku beberapa bulan kemudian masih dapat merasakan efek sisa dari insiden.

"Konsumen perlu sadar bahan apa saja yang ada dalam minuman mereka dan bila perlu cek ke dokter ketika ada pertanyaan. Konsumen juga harus selalu taat mengikuti rekomendasi yang sudah dicantumkan oleh produsen," pungkas dr Anand.

Baca juga: Studi: 1 dari 5 Kasus Kerusakan Hati Disebabkan Herba dan Suplemen (fds/vit)
News Feed