Senin, 12 Des 2016 12:02 WIB

Agar Tak Menyeramkan, Tes HIV di Jakut Dibarengkan Cek Kolesterol

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth Foto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth
Jakarta - Stigma negatif membuat orang sungkan untuk tes HIV (Human Imunodeficiency Virus). Nah untuk mengurangi kesan 'menyeramkan', tes HIV di Kelurahan Lagoa, Koja, Jakarta Utara digabung dengan tes lainnya seperti tes kolesterol.

Hasilnya, puluhan warga RW 02 Keluharan Lagoa berbondong-bondong menghadiri pemeriksaan HIV gratis yang diadakan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), Senin pagi (12/12/2016). Meski dibarengkan dengan tes kolesterol dan penyuluhan KB (Keluarga Berencana), beberapa warga tanpa sungkan mengaku datang memang untuk tes HIV.
Agar Tak Menyeramkan, Tes HIV di Jakut Dibarengkan Cek KolesterolFoto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth

Muvita Sari, koordinator program tes HIV dari PKBI mengakui stigma negatif terhadap pengidap HIV memang masih ada. Kondisi ini menjadi tantangan dalam berbagai upaya penanganan, terlebih saat ini infeksi HIV tidak hanya menyerang kelompok tertentu yang selama ini dianggap sebagai populasi kunci.

"Di kalangan pekerja seks dan waria memang masih, tapi dari dulu ya segitu-segitu saja. Malah yang sekarang meningkat itu di kalangan ibu rumah tangga dan anak-anak," kata Muvi saat ditemui di Koja, Jakarta Utara.

Baca juga: Penasaran Bagaimana Tes HIV Dilakukan? Simak Video Ini
Agar Tak Menyeramkan, Tes HIV di Jakut Dibarengkan Cek KolesterolFoto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth

Pendekatan untuk menanggulangi infeksi HIV, menurut Muvi tidak bisa lagi dilakukan secara eksklusif. Agar lebih bisa diterima oleh masyarakat, maka tokoh-tokoh yang dihormati oleh warga juga harus dilibatkan. Di Kelurahan Lagoa, PKBI menggandeng pengurus RW dan kader-kader karang taruna.

Salah seorang kader, Neng (45), mengakui bahwa rasa sungkan untuk datang memeriksakan status HIV masih dialami oleh sebagian warga. Namun hal itu dianggapnya sebagai tantangan untuk semakin gigih mengkampanyekan bahaya infeksi HIV di kalangan warga.

"Terlebih kan lokasinya di sini banyak kafe-kafe, jadi risikonya memang ada. Setidaknya ada 10-12 kafe dan 2 panti pijat di RT kami," kata Neng.

Baca juga: 'Ayo Buka Celana' di Puskesmas Kopo Kota Bandung (up/vit)