Senin, 19 Des 2016 10:04 WIB

Kaleidoskop 2016

Januari: Jakarta Diteror Bom dan Dampaknya bagi Psikis serta Fisik

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Hasan Alhabsy Foto: Hasan Alhabsy
Jakarta - Indonesia berduka karena Jakarta diteror bom di ruang terbuka, tepatnya di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat pada Januari lalu. Meski teror ini berhasil diredam, namun tak pelak menimbulkan ketakutan tersendiri.

Dijelaskan psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa Jakarta Selatan, Liza Marielly Djaprie, munculnya rasa takut ketika terjadi teror lumrah terjadi dan normal. Justru bila dipendam akan menumpuk dan berlarut-larut, yang pada saatnya nanti akan 'meledak' dan berdampak pada kondisi kejiwaan seseorang.

"Numpuk, lalu akhirnya depresi," kata Liza seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Namun ia menyambut baik kampanye bangkit melawan teror dengan tanda pagar #KamiTidakTakut yang saat itu beredar di media sosial. Tanda pagar itu pun menjadi simbol perlawanan netizen terhadap aksi teror.

Hanya saja, Liza berpendapat bahwa sugesti akan lebih efektif jika disampaikan dengan kata-kata positif. Dibandingkan 'kami tidak takut', Liza lebih menyarankan 'kami berani' atau semacamnya.

Hal ini didasarkan pada teori Neuro-linguistic programming (NLP) yang menyebut bahwa sugesti memang lebih baik dibuat menggunakan kata-kata positif.

Januari: Jakarta Diteror Bom dan Dampaknya bagi Psikis serta FisikFoto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo


"Sama seperti anak kecil. Kalau dilarang-larang; jangan pegang panci panas, dalam kepalanya malah muncul sugesti untuk memegang. Dengan sugesti 'kami tidak takut', amit-amit kalau suatu saat terjadi teror serupa, khawatirnya justru muncul rasa takut," jelas Liza.

Psikolog Anna Surti Ariani menambahkan, berita tentang teror bom juga baiknya tidak ditelan mentah-mentah oleh anak. Sebab ketika berita tentang teror itu diulang-ulang, anak menganggap kejadian itu terjadi berulang kali.

"Walaupun yang diputar dan ditayangkan di TV videonya itu-itu aja, tapi anak bisa berpikir peristiwa itu terulang terus. Jadinya menakutkan buat dia," jelas Nina.

Lebih baik, dampingi anak dan pilihkan acara yang memang ramah kepada mereka. Jika orang tua ingin mengetahui kabar terbaru soal teror, Nina menyarankan agar menonton televisi setelah anak tidur atau menggunakan sumber informasi lainnya, semisal dari internet.

Nina melanjutkan, orang tua juga tidak disarankan berbohong kepada anak jika memang ingin menjawab rasa penasaran mereka. "Katakan aja ini memang urusan orang dewasa dan memang anak kan belum dewasa. Kalau dia nanya dewasa itu gimana, bilang aja kalau sudah punya KTP nah kan kenyataannya anak memang belum punya KTP. Jadi dia bisa ngerti karena memang ada bukti yang konkret," terangnya.

Baca juga: Teror Bom, Lelucon Polisi Ganteng dan Ancaman Pudarnya Empati

Di sisi lain, berita teror tidak hanya mengganggu kesehatan psikis seseorang, melainkan juga sampai ke fisiknya. Praktisi kesehatan saluran cerna dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, FINASIM mengatakan, ini bisa memicu kekambuhan berbagai penyakit karena kepanikan yang berlebihan.

dr Ari mengatakan kepanikan atau kecemasan secara berlebihan akan memicu naiknya asam lambung. Kenaikan asam lambung inilah yang kemudian mendorong kekambuhan asma, tekanan darah tinggi (hipertensi), serta peningkatan kadar gula yang tidak terkendali pada pasien diabetes mellitus.

Sebagai dokter yang banyak menangani kekambuhan penyakit akibat stres, dr Ari mengimbau masyarakat untuk tidak mudah menyebar informasi tidak jelas terkait teror di Jakarta. Salah satu cara untuk mengatasi ketakutan yang berlebihan, menurutnya adalah dengan tetap beraktivitas seperti biasa.

"Ayo tetap semangat, lawan teroris dengan cara tetap beraktivitas seolah-olah tidak terjadi teror tadi pagi di pusat kota Jakarta," ajak dr Ari kala itu.

Baca juga: Agar Tak Ketakutan Teror Bom, Ada Baiknya Anak Absen Sejenak Nonton TV


(lll/vit)
News Feed