Sejumlah peneliti sepakat jika pengaruh stres sama besarnya terhadap kesehatan kardiovaskular dengan kebiasaan merokok dan tekanan darah tinggi.
Lantas bagaimana mekanismenya hingga kedua hal ini berkaitan? Hal ini coba dibuktikan peneliti dari Harvard Medical School dengan mengamati 293 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti berpendapat ini ada kaitannya dengan aktivitas amygdala, bagian otak yang berfungsi memproses emosi seperti rasa takut dan amarah.
Ini karena mereka yang amygdala-nya memperlihatkan aktivitas lebih tinggi berakhir dengan penyakit kardiovaskular. Dua-puluh dua partisipan terbukti terserang penyakit jantung, dan aktivitas amygdala mereka juga tampak lebih tinggi.
Tak hanya itu, mereka juga rata-rata mengalami serangan jantung lebih dini dari orang-orang seusianya.
Baca juga: Ketika Ditinggal Orang yang Dicintai Berujung Kematian
Menurut peneliti, ketika amygdala 'menyala' karena stres, bagian ini akan mengirimkan sinyal ke sumsum tulang agar memproduksi sel-sel darah putih ekstra, seolah-olah ancaman datang dan mereka akan 'pergi berperang'.
Padahal hal ini tidak benar-benar terjadi, dan ketika sumsum tulang menghasilakn sel darah putih tambahan, ini juga akan memicu peradangan pada pembuluh darah. Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya serangan jantung, stroke maupun gangguan kardiovaskular lainnya.
"Temuan ini menambah bukti bahwa mengurangi tingkat stres tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental seseorang, tetapi lebih dari itu," simpul ketua tim peneliti, Dr Ahmed Tawakol seperti dilaporkan BBC.
Kalau perlu, lanjut Tawakol, karena stres kronis telah dijadikan sebagai faktor risiko penting untuk penyakit kardiovaskular, maka kondisi ini diskrining secara rutin dan ditangani secara efektif agar tidak sampai memicu dampak terburuk, yaitu penyakit jantung tadi.
Baca juga: 5 Faktor Risiko Penyakit Jantung yang Sering Tidak Disadari (lll/vit)











































