Senin, 16 Jan 2017 14:39 WIB

Kaleidoskop 2016

Desember: Tragedi Perampokan yang Berakibat Kematian di Pulomas

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Dewi Irmasari/detikcom
Jakarta - Perampokan sadis terjadi di Pulomas, Jakarta Timur di penghujung tahun 2016. Kawanan perampok memang tidak melakukan pembunuhan secara langsung, namun seluruh korban dimasukkan ke dalam sebuah toilet sempit hingga sebagian meninggal dunia.

Pihak kepolisian memastikan kematian 6 dari 11 orang yang disekap perampok tersebut diakibatkan oleh kekurangan oksigen, atau dalam istilah medisnya disebut sebagai keracunan CO2 atau karbon dioksida.

Terjebak di ruangan sempit seperti toilet berukuran 1,5 meter x 1,5 meter yang ditempati 11 orang sekaligus seperti pada tragedi pembunuhan di Pulomas, membuat kadar oksigen (O2) cepat menipis. Apalagi kesemuanya disekap dalam kondisi lampu dimatikan atau exhaust tidak menyala sehingga pertukaran udara menjadi berkurang.

Akibatnya, sebagian besar dari mereka mengalami sesak napas. Di samping itu, karena sirkulasi udara memicu penumpukan karbon dioksida yang dihasilkan oleh sistem pernapasan. Padahal karbon dioksida dalam jumlah berlebih juga bisa mematikan.

Selain itu, kemampuan seseorang untuk bertahan dalam kondisi keracunan karbon dioksida berbeda-beda. Ada yang bisa bertahan lama, ada juga yang tidak, apalagi ke-11 korban disekap selama 18 jam. Biasanya yang mengalami klaustrofobia atau fobia ruangan sempit akan terserang gangguan kecemasan sebelum benar-benar akhirnya keracunan karbon dioksida.
Desember: Tragedi Perampokan yang Berakibat Kematian di PulomasToilet tempat korban disekap (Foto: Istimewa)

Dampak lain yang perlu digarisbawahi adalah pada korban yang selamat, karena beberapa di antaranya adalah anak-anak. Dalam peristiwa itu, ada anak yang menjadi korban sekaligus saksi dari kekejian pelaku, bahkan menyaksikan langsung ayah dan saudaranya meninggal dunia.

Psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd menegaskan, peristiwa seperti ini akan terus diingat oleh si anak, bahkan ada kemungkinan memicu trauma berat. Akan tetapi Diana mengatakan, ini belum tentu mempengaruhi kehidupannya kelak. "Semua tergantung dari pendampingannya dan pribadi masing-masing," katanya seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Pendampingannya juga harus didukung semua pihak, baik keluarga maupun teman-temannya. Ditambahkan Diana, lamanya proses pendampingan tergantung pada kondisi si anak. Lagipula dampak trauma tidak selalu bisa terlihat secara langsung, tetapi bisa juga setelah beberapa tahun.

Diana juga menyarankan agar orang-orang sekitar menghindari penggunaan kata-kata yang bisa menyinggung perasaan anak atau trauma yang menambah bebannya. "Sewajarnya ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi, kita akan miliki rasa kehilangan, mungkin dia sudah merelakan namun rasa kehilangan masih membekas," imbuhnya.

Baca juga: Dokter: Waspadai Gangguan Kecemasan Terkait Pembunuhan Sadis di Pulomas

Terkait dampak peristiwa semacam ini kepada masyarakat luas, praktisi kesehatan dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Ari Fahrial Syam, SpPD juga menyinggung munculnya gangguan kecemasan. Menurutnya, berbagai informasi yang berkaitan dengan peristiwa ini dapat memicu kekhawatiran yang berlebihan. Bila tak tertangani, kondisi ini kemudian dapat mendorong munculnya gangguan kecemasan.

"Bahkan mendengar atau membaca pembunuhan keji bisa menjadi pencetus pada pasien-pasien saya tersebut, padahal korban pembunuhan tersebut tidak berhubungan langsung dengan pasien saya," kata dr Ari yang merupakan seorang konsultan kesehatan saluran cerna.

Gejalanya antara lain tangan berkeringat, sakit kepala, jantung berdebar-debar, tengkuk sakit maupun napas sesak. Jika memiliki riwayat penyakit kronis, bisa pula memicu kekambuhan seperti tekanan darah tinggi dan kadar gula tidak terkontrol.
Desember: Tragedi Perampokan yang Berakibat Kematian di PulomasFoto: Ir Dodi Triono dan keluarga (Instagram/@dianitagemma)

Ditambahkan psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, efek yang sama juga muncul ketika seseorang melihat foto beberapa korban pembunuhan yang tersebar di media sosial, utamanya bila anak-anak yang melihatnya. Kebetulan tiga korban di antaranya adalah anak-anak.

Ratih mengatakan, jika anak terpapar isu-isu yang mengarah pada kejahatan atau kekerasan, ini akan memberikan efek negatif, semisal trauma. "Tapi sebenarnya nggak akan terjadi di semua anak, tergantung karakter anak. Tapi secara garis besar memang sebaiknya anak tidak perlu melihat-lihat (foto korban pembunuhan sadis, red)," jelas Ratih.

Begitu pula dengan orang tua. Selain membatasi informasi terkait kabar tersebut, Ratih meminta bila anak terlanjur melihatnya, maka orang tua juga harus memberikan respons yang positif, artinya menenangkan. "Biasa saja, nggak usah dibesar-besarkan. Itu kondisi yang tidak perlu didramatisir dan diceritakan secara detail," pintanya.

Baca juga: Kata Psikolog Soal Trauma pada Anak Akibat Mengalami Kekerasan (lll/vit)